
MerahPutihGlobal.net – Sejarah pendidikan Indonesia menunjukkan sekolah tidak pernah berdiri sebagai ruang netral, karena ruang kelas berulang kali menjadi jalur masuk ideologi asing yang memengaruhi pembentukan nalar generasi muda.
Sekolah kerap dipahami sebagai institusi teknis yang bertugas mentransfer pengetahuan. Namun dalam kajian pendidikan kritis, pendidikan justru diposisikan sebagai arena strategis pembentukan nilai dan orientasi berpikir. Akademisi pendidikan asal Amerika Serikat, Henry A. Giroux, menegaskan pendidikan selalu berada dalam relasi kekuasaan dan tidak pernah bebas nilai, sebagaimana dijelaskan dalam bukunya Theory and Resistance in Education (2001).
Jejak Penjajahan dalam Pendidikan
Pada masa penjajahan Belanda, sistem pendidikan dirancang untuk melayani kepentingan penjajah. Sekolah tidak diarahkan membangun kemandirian rakyat, melainkan mencetak tenaga administrasi lokal yang patuh. Kurikulum berorientasi Eropa menanamkan cara pandang yang menempatkan Barat sebagai standar kemajuan.
Sejarawan pendidikan Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Agus Suwignyo, menjelaskan pendidikan era penjajahan berfungsi sebagai alat kontrol sosial. Pandangan tersebut disampaikan dalam Seminar Sejarah Pendidikan Nasional di UGM dan diperkuat dalam bukunya Nasionalisme dan Pendidikan Kolonial. Menurutnya, sekolah melahirkan kelas perantara yang secara ideologis lebih dekat dengan penjajah dibanding masyarakatnya sendiri.
Dari Orde Baru hingga Reformasi
Pasca-kemerdekaan, pengaruh ideologi asing tidak sepenuhnya hilang. Penelitian Universitas Negeri Semarang (2020) mencatat kurikulum periode 1950–1965 dipengaruhi pertarungan ideologi global. Perubahan orientasi politik internasional berdampak langsung pada tujuan pendidikan nasional.
Pada era Orde Baru, penyusupan ideologi asing berlangsung lebih terselubung melalui narasi stabilitas dan modernisasi. Sejarawan Asvi Warman Adam menilai pendidikan sejarah disederhanakan untuk menopang kekuasaan dan menekan narasi kritis terhadap ketergantungan global.
Memasuki era Reformasi, ideologi asing hadir melalui standar internasional, indikator kebijakan, dan bahasa teknokratis pendidikan. Pengamat pendidikan Darmaningtyas menyebut perubahan kurikulum kerap mengikuti arus global tanpa kontekstualisasi sosial yang memadai.
Kedaulatan Nalar Bangsa
Dalam konteks ini, pendidik asal Brasil Paulo Freire menegaskan pendidikan selalu berada di antara dua fungsi: penyeragaman atau pembebasan, sebagaimana tertuang dalam Pedagogy of the Oppressed (1970).
Sejarah tersebut menunjukkan sekolah merupakan medan sunyi perebutan ideologi. Kesadaran kritis diperlukan agar pendidikan nasional tidak sekadar menjadi ruang adopsi nilai global, melainkan sarana pembentukan warga yang berdaulat secara nalar dan berpihak pada kepentingan bangsa. ***
