
Merah Putih Global – Pasar hari ini diperkirakan masih bergerak hati-hati setelah lonjakan harga minyak dan penguatan dolar Amerika Serikat menekan aset berisiko. Pelaku pasar domestik akan memantau dampaknya terhadap IHSG, rupiah, dan pasar obligasi pada perdagangan Jumat (24/4/2026).
Pada sesi sebelumnya, IHSG turun 2,16% ke level 7.378,61. Rupiah juga ditutup di Rp17.280 per dolar AS, posisi penutupan terlemah sepanjang masa. Tekanan tersebut menjadi pijakan awal perdagangan hari ini.
Fokus utama kini mengarah pada dua variabel global, yakni minyak dunia dan indeks dolar.
Harga Minyak Melonjak ke Atas US$105
Kontrak Brent crude ditutup naik lebih dari 3% ke US$105,07 per barel. Level itu menjadi yang tertinggi sejak 7 April 2026 dan mencerminkan premi risiko geopolitik yang kembali meningkat.
Kenaikan harga minyak dipicu ketegangan di Selat Hormuz setelah Amerika Serikat dan Iran saling menunjukkan tekanan baru. Jalur tersebut merupakan rute penting distribusi energi dunia.
Bagi Indonesia, minyak yang mahal berpotensi menambah kekhawatiran pasar terhadap impor energi, tekanan inflasi, serta kebutuhan dolar untuk pembayaran perdagangan.
Efek ke Bursa Domestik
Saham sektor tertentu bisa mendapat sentimen positif dari kenaikan komoditas energi. Namun secara umum, biaya energi yang lebih tinggi kerap dianggap negatif bagi emiten konsumsi, manufaktur, dan transportasi.
Karena itu, pelaku pasar akan melihat apakah kenaikan minyak hari ini menjadi peluang sektoral atau justru menekan indeks secara luas.
Indeks Dolar Sentuh Puncak Baru
Indeks dolar AS naik ke 98,77, tertinggi sejak 9 April 2026. Penguatan mata uang AS biasanya membuat aliran dana global bergerak lebih selektif terhadap pasar negara berkembang.
Dalam kondisi seperti ini, rupiah berpotensi kembali menghadapi tekanan. Jika dolar bertahan kuat, ruang penguatan mata uang domestik cenderung terbatas.
Di sisi lain, investor asing juga biasanya lebih berhati-hati menempatkan dana di pasar saham ketika dolar sedang dominan.
Data Global Masih Jadi Penentu
Pasar juga mencermati perlambatan aktivitas ekonomi Amerika Serikat. Chicago Fed National Activity Index turun ke -0,20 pada Maret 2026. Klaim pengangguran mingguan AS naik menjadi 214 ribu.
Data ini memberi gambaran ekonomi AS mulai melambat, namun belum cukup lemah untuk mengubah arah kebijakan secara cepat. Karena itu, respons pasar masih bercampur antara kekhawatiran pertumbuhan dan harapan pelonggaran kebijakan.
Sentimen campuran tersebut membuat volatilitas berpotensi tinggi pada sesi hari ini.
Apa yang Dicermati Investor Hari Ini
Pelaku pasar domestik akan menunggu pergerakan awal rupiah dan arus dana asing di bursa. Jika net sell kembali besar, IHSG berisiko melanjutkan koreksi.
Agenda korporasi seperti RUPS sejumlah emiten serta jadwal dividen juga dapat memengaruhi saham tertentu. Namun arah utama pasar tetap ditentukan sentimen global.
Pergerakan harga minyak, indeks dolar, dan perkembangan konflik Timur Tengah diperkirakan menjadi penentu utama pasar hari ini.
