
Merah Puti Global – Palestina bersama Kelompok Arab dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) memperingatkan potensi aneksasi Israel di wilayah Palestina yang diduduki. Peringatan tersebut disampaikan dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di tengah kekhawatiran atas memburuknya situasi di Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Jalur Gaza.
Para perwakilan menilai Israel memanfaatkan kondisi ketidakstabilan kawasan untuk mempercepat perubahan di wilayah pendudukan. Langkah tersebut dikhawatirkan mengancam masa depan Palestina dan peluang tercapainya solusi dua negara.
Isu ini kembali menjadi sorotan internasional karena berkaitan langsung dengan perkembangan konflik yang terus berlangsung di kawasan tersebut.
Palestina Peringatkan Situasi Semakin Berbahaya
Utusan Palestina untuk PBB, Riyad Mansour, menegaskan bahwa kondisi di wilayah Palestina saat ini berada pada titik yang sangat mengkhawatirkan.
Menurutnya, terdapat indikasi upaya perubahan besar yang berlangsung di tengah situasi perang. Perubahan tersebut dinilai dapat mengarah pada aneksasi wilayah Palestina oleh Israel.
Mansour menyebut langkah tersebut berpotensi menghancurkan peluang penyelesaian konflik melalui solusi dua negara yang selama ini didukung komunitas internasional.
Selain itu, ia juga menyoroti risiko memburuknya kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza yang masih menghadapi berbagai dampak konflik berkepanjangan.
Dalam surat yang dikirim Palestina kepada Dewan Keamanan PBB, perhatian khusus diberikan pada rencana permukiman E1.
Rencana tersebut bertujuan menghubungkan Yerusalem Timur dengan sejumlah permukiman Israel di wilayah sekitarnya.
Menurut Palestina, proyek itu melibatkan penyitaan lahan dan pembangunan permukiman baru yang dapat mengubah peta wilayah secara permanen.
Yang jadi sorotan, rencana E1 dianggap sebagai ancaman serius terhadap keberlangsungan wilayah Palestina di masa depan.
Mansour menegaskan bahwa langkah tersebut dapat mempersempit peluang terciptanya negara Palestina yang berdaulat dan berkesinambungan secara geografis.
Dalam konteks tersebut, Palestina meminta Dewan Keamanan PBB mengambil langkah yang lebih konkret.
Mansour merujuk pada Resolusi 2334 yang menegaskan bahwa permukiman Israel di wilayah pendudukan tidak memiliki dasar hukum internasional.
Ia menilai komunitas internasional perlu bergerak lebih jauh dari sekadar pernyataan politik.
Menurutnya, tindakan nyata diperlukan untuk menghentikan aktivitas yang dapat memperburuk konflik dan menghambat proses perdamaian.
Ia juga menegaskan bahwa rakyat Palestina tidak memiliki tanah air lain selain Palestina.
OKI dan Kelompok Arab Sampaikan Sikap Serupa
Dukungan terhadap posisi Palestina juga datang dari Organisasi Kerja Sama Islam dan Kelompok Arab.
Perwakilan Turki di PBB yang berbicara atas nama OKI mengutuk berbagai upaya yang dinilai memperkuat pendudukan serta memperluas kontrol Israel di wilayah Palestina.
Selain itu, mereka mendesak komunitas internasional untuk menghentikan perluasan permukiman dan mencegah pengusiran paksa warga Palestina.
Sementara itu, utusan Kelompok Arab menyebut rencana E1 sebagai ancaman eksistensial terhadap masa depan Palestina dan prospek perdamaian kawasan.
Harapan pada Peran Komunitas Internasional
Palestina juga menyinggung pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sebelumnya menolak aneksasi wilayah Palestina.
Mansour berharap Washington dapat menggunakan pengaruhnya untuk mendorong langkah-langkah yang mendukung proses perdamaian.
Di sisi lain, para peserta pertemuan menyerukan pentingnya akuntabilitas sesuai hukum internasional.
Mereka menilai upaya menghentikan aktivitas terkait aneksasi dan ekspansi permukiman menjadi langkah penting untuk menjaga peluang penyelesaian konflik secara damai.
