Daerah
Bank Jakarta Siapkan 4 Strategi Dukung Kota Inklusif dan Berkelanjutan
Reza F
07 Juni 2026 18:22
Merah Puti Global - Bank Jakarta menyiapkan empat strategi utama untuk mendukung transformasi Jakarta menjadi kota inklusif, terkoneksi, dan berkelanjutan. Langkah tersebut menjadi bagian dari penguatan peran perusahaan sebagai penghubung berbagai elemen pembangunan kota.
Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, menyampaikan strategi itu dalam kegiatan Urban Talks BUMD: Katalisator Kota, Akselerator Pembangunan, Jumat 5 Juni 2026. Acara tersebut berlangsung dalam rangkaian Jakarta Future Festival 2026 di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat.
Menurut Agus, pembangunan kota masa depan tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur modern dan teknologi. Yang perlu diperkuat justru keterhubungan antara masyarakat, layanan publik, pelaku usaha, hingga investor.
Bank Jakarta Ingin Jadi Financial Operating System
Agus menjelaskan Jakarta saat ini telah memiliki berbagai sistem pendukung kota. MRT Jakarta berperan sebagai Mobility Operating System, sementara Transjakarta menjadi platform transportasi publik.
Di sisi lain, PAM Jaya menjalankan layanan air untuk masyarakat. Karena itu, Bank Jakarta ingin mengambil posisi sebagai Financial Operating System yang menghubungkan berbagai kebutuhan ekonomi warga.
“Jakarta tidak kekurangan gedung, jalan, maupun teknologi. Yang masih perlu diperkuat adalah keterhubungan antara warga dengan layanan, UMKM dengan pasar, investor dengan peluang, serta pemerintah dengan masyarakat,” ujar Agus.
Menurutnya, peran lembaga keuangan kini tidak hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Namun, bank juga harus mampu menjadi penggerak ekosistem pembangunan kota.
Empat Strategi Bank Jakarta untuk Masa Depan Kota
Strategi pertama yang disiapkan Bank Jakarta adalah memperluas inklusi keuangan. Dalam praktiknya, perusahaan ingin memastikan seluruh warga memiliki akses terhadap layanan keuangan formal yang aman dan berbasis digital.
Agus menilai masih banyak warga Jakarta yang belum masuk dalam sistem keuangan formal. Karena itu, persoalan tersebut menjadi tantangan besar yang harus segera diselesaikan.
“Faktanya masih banyak warga Jakarta yang belum masuk ke dalam sistem keuangan formal, ini menjadi pekerjaan besar yang harus kami selesaikan,” katanya.
Strategi kedua berfokus pada penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM. Tak hanya menyediakan pembiayaan, Bank Jakarta juga ingin membantu pelaku usaha masuk ke ekosistem digital.
Selain itu, perusahaan berupaya memperluas akses pasar serta memperkuat rantai pasok UMKM di Jakarta. Menurut Agus, pelaku usaha kecil membutuhkan kesempatan berkembang, bukan sekadar pinjaman modal.
“UMKM tidak hanya membutuhkan pinjaman, tetapi juga membutuhkan kesempatan,” ujarnya.
Bank Jakarta Perkuat Pembiayaan Rumah dan Investasi
Strategi ketiga adalah memperluas housing inclusion atau akses pembiayaan perumahan. Agus menilai keterjangkauan hunian menjadi tantangan besar bagi generasi muda di Jakarta.
Karena itu, akses pembiayaan rumah dinilai harus masuk dalam strategi pembangunan kota. Dalam konteks tersebut, Bank Jakarta ingin membantu masyarakat memperoleh hunian pertama.
“Akses pembiayaan rumah harus menjadi bagian dari strategi kota karena banyak anak muda yang kesulitan menjangkau harga rumah di Jakarta,” katanya.
Sementara itu, strategi keempat berfokus pada investment enablement atau penguatan iklim investasi. Agus menegaskan pembangunan kota global membutuhkan dukungan investasi yang kuat dan berkelanjutan.
Menurutnya, pembangunan Jakarta tidak dapat hanya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Oleh sebab itu, kepercayaan investor perlu terus diperkuat.
Transformasi Digital Harus Libatkan Semua Warga
Agus juga menekankan pentingnya prinsip no one left behind dalam transformasi digital kota. Ia menilai perkembangan teknologi harus mampu membuka peluang lebih luas bagi seluruh masyarakat.
Yang jadi sorotan, manfaat digitalisasi harus dirasakan pelaku UMKM, pedagang kaki lima, hingga keluarga muda yang sedang mencari rumah pertama. Dengan kata lain, teknologi tidak boleh menciptakan kesenjangan baru.
“Teknologi tanpa inklusi hanya akan menciptakan kesenjangan yang semakin lebar. Karena itu, transformasi digital harus memberi manfaat bagi mereka yang selama ini tertinggal,” ujar Agus.
Ia menambahkan ukuran keberhasilan Jakarta bukan hanya jumlah gedung tinggi yang berdiri. Namun, seberapa besar peluang hidup yang dapat diwujudkan masyarakat melalui pembangunan kota.
Penulis: Reza F
Editor: A Khai