Menkeu Purbaya Pasang Badan Lawan Fitch Ratings Demi Target PDB 8 Persen

merahputihglobal.net — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menunjukkan karakter kepemimpinan yang tegas dan patriotik dalam merespons tekanan lembaga pemeringkat internasional. Menyusul keputusan Fitch Ratings yang menurunkan outlook utang Indonesia menjadi negatif pada Rabu (4/3/2026), Purbaya menegaskan bahwa Indonesia tidak akan mendiktekan kebijakan ekonominya pada sentimen asing yang tidak akurat. Dengan mengusung misi besar Presiden Prabowo untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen, Purbaya menyatakan bahwa fundamental fiskal nasional justru berada dalam posisi yang jauh lebih perkasa dibandingkan negara-negara berperingkat serupa di kancah global.

“Mungkin kan masih pemerintahan baru dan Menteri Keuangan juga baru, jadi mereka sangka jangan-jangan Menteri Keuangan nggak bisa hitung. Jadi itu salah saya juga karena saya nggak pernah ke luar negeri,” ujar Purbaya dengan nada lugas dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Jumat (6/3/2026).

Kedaulatan Fiskal di Tengah Sentralisasi Kebijakan

Fitch Ratings secara spesifik menyoroti risiko sentralisasi kewenangan pembuatan kebijakan yang dianggap mengikis kredibilitas bauran kebijakan Indonesia. Namun, bagi Purbaya, penguatan komando ekonomi adalah kunci untuk mengejar ketertinggalan dan mengakselerasi kesejahteraan rakyat. Terkait kekhawatiran Fitch mengenai defisit yang diprediksi menembus 2,9 persen dari PDB pada 2026, Purbaya dengan berani menyatakan kesiapan pemerintah untuk melakukan penyesuaian belanja strategis. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pun siap dipangkas hingga Rp100 triliun guna menjamin defisit tetap di bawah batas hukum 3 persen, demi menjaga marwah disiplin anggaran negara.

READ  KPK Periksa Lagi Eks Menag Yaqut Selama Hampir Sembilan Jam

Data menunjukkan bahwa rasio utang Indonesia terhadap PDB saat ini berada di level 41 persen, angka yang sangat kompetitif dibandingkan median negara berperingkat BBB yang mencapai 57,3 persen. Purbaya mempertanyakan standar penilaian Fitch yang seolah mengincar Indonesia, padahal negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam memiliki defisit di atas 4 persen. Baginya, jurnalisme data adalah senjata utama untuk melawan narasi negatif; ia menyodorkan fakta bahwa penerimaan pajak nasional justru melonjak di atas 30 persen pada awal tahun 2026, membuktikan bahwa mesin ekonomi dalam negeri sedang melaju kencang.

Diplomasi Strategis di Washington

Sebagai bentuk pertanggungjawaban kepemimpinan, Purbaya dijadwalkan terbang ke Washington DC pada April mendatang untuk menghadiri pertemuan IMF-World Bank. Kunjungan ini bukan sekadar urusan teknis, melainkan misi “marketing” nasionalis untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia di bawah kepemimpinan baru tetap solid dan kompeten. Ia ingin mematahkan keraguan investor global bahwa transisi dari era konservatif ke era pro-pertumbuhan tetap berjalan dalam koridor transparansi dan manajemen utang yang sehat.

READ  P3K Mandek, Guru Madrasah Swasta Tekan Pemerintah pada HGN 2025 

Menkeu Purbaya memberikan tenggat waktu enam bulan bagi publik dan dunia internasional untuk melihat hasil dari kebijakan beraninya. Ia meyakini bahwa cara terbaik untuk membela kepentingan nasional adalah dengan mencatatkan angka pertumbuhan ekonomi tertinggi di G20. Dengan semangat patriotisme ekonomi, Purbaya memastikan bahwa setiap langkah fiskal yang diambil senantiasa mengutamakan kepentingan rakyat Indonesia di atas penilaian subjektif lembaga pemeringkat mana pun. ***