
MerahPutihGlobal.net — Peringatan keras datang dari para peneliti setelah banjir bandang di Aceh, Sumut, dan Sumbar pada akhir November 2025 menewaskan 744 warga. Mereka menegaskan deforestasi di Kalimantan, Papua, dan Sulawesi berada pada level yang mengancam stabilitas ekologis sekaligus keamanan nasional.
BNPB melaporkan 1,1 juta pengungsi dan puluhan jembatan terputus. Struktur hulu DAS terbukti rapuh setelah bertahun-tahun kehilangan hutan. Ketika hujan ekstrem datang, daerah tak mampu meredamnya.
Data Auriga Nusantara dan FWI menunjukkan deforestasi melonjak menjadi 257.384 hektare pada 2023. Kalimantan menjadi pusat kehilangan hutan, Papua mengalami degradasi luas sejak 1990, dan Sulawesi kehilangan puluhan ribu hektare tutupan pohon sejak 2021.
Ancaman langsung bagi pulau-pulau strategis
Peneliti UGM, Hatma Suryatmojo, menegaskan bahwa kerusakan hutan adalah faktor penentu dalam besarnya daya rusak banjir. “Cuaca ekstrem hanya pemicu awal,” katanya, Rabu (3/12/2025).
Direktur WALHI Aceh, Ahmad Solihin, menyebut bencana Sumatera sebagai “bencana ekologis yang diproduksi kebijakan permisif,” (2/12/2025). WALHI Sumbar menilai lemahnya penegakan hukum membuat wilayah itu seperti “bom waktu ekologis.”
Pemerintah pusat menyatakan deforestasi menurun secara netto, tetapi pejabat daerah mempertanyakan validitasnya. Anggota DPR RI, Gus Irawan Pasaribu, kepada Reuters (2/12/2025) mengatakan: “Jika hutan kami terjaga, bencana ini tidak akan separah ini.”
Para pakar memperingatkan bahwa Kalimantan, Papua, dan Sulawesi kini berada dalam “fase kritis.” Kerusakan hutan tidak lagi menjadi isu sektoral—melainkan ancaman strategis yang dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi, keamanan pangan, hingga logistik nasional. Intervensi cepat menjadi keharusan. ***
