
MerahPutihGlobal – Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia atau Apkasindo mendukung kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI. Kebijakan tersebut dinilai dapat memperkuat posisi Indonesia di pasar sawit global.
Ketua Umum DPP Apkasindo Gulat ME Manurung mengatakan petani sawit pada dasarnya mendukung pembentukan DSI.
Baik petani swadaya maupun petani bermitra disebut memiliki harapan besar terhadap perbaikan tata kelola industri sawit nasional.
“Petani sawit swadaya maupun bermitra mendukung DSI, tetapi harus dijelaskan cepat,” kata Gulat.
Dalam sudut pandang ini, pemerintah diminta segera memberikan penjelasan yang lebih rinci agar tidak muncul keresahan di tingkat petani.
DSI Dinilai Bisa Kendalikan Harga Sawit Nasional
Apkasindo menilai kebijakan DSI dapat membuat tata niaga sawit Indonesia lebih terarah.
Yang jadi sorotan, selama ini ekspor sawit disebut berjalan tanpa kendali harga yang kuat.
Menurut Gulat, kondisi tersebut membuat posisi Indonesia belum maksimal meski menjadi produsen sawit terbesar dunia.
“Masa kita jual sawit sendiri-sendiri ke luar negeri tanpa kendali harga. Kalau DSI berjalan baik, ini bisa menjadi dirigen sawit Indonesia,” ujarnya.
Dengan kata lain, DSI diharapkan mampu menjadi pengatur tata kelola ekspor sawit nasional.
Di sisi lain, Apkasindo mengingatkan bahwa implementasi kebijakan harus dipahami seluruh pelaku usaha.
Harga Sawit Turun Akibat Spekulasi Pasar
Menurut Apkasindo, ketidakjelasan informasi soal DSI memicu spekulasi pasar dalam beberapa hari terakhir.
Akibatnya, harga tandan buah segar atau TBS petani terus mengalami penurunan.
Petani swadaya disebut menjadi kelompok yang paling terpukul.
“Petani swadaya sekarang itu ada yang tinggal Rp1.800 sampai Rp2.200 per kilogram. Padahal HPP kita Rp2.000. Artinya petani sudah nombok,” kata Gulat.
Sementara itu, harga TBS petani plasma masih berada di sekitar Rp3.600 per kilogram.

Hal ini terjadi karena petani plasma memiliki perlindungan melalui pola kemitraan perusahaan.
Dalam praktiknya, petani swadaya tidak memiliki kontrak pembelian tetap sehingga lebih rentan terhadap penurunan harga.
Harga CPO Global Disebut Sedang Naik
Yang menarik, Apkasindo menyebut kondisi pasar global justru sedang menunjukkan tren positif.
Harga minyak sawit mentah atau CPO dunia disebut berada pada level tinggi.
“Harga CPO global lagi bagus. Kalau dirupiahkan bisa rata-rata Rp18.000 per kg, seharusnya harga dalam negeri sekitar Rp15.800 per kg,” jelas Gulat.
Namun pada kenyataannya, harga CPO dalam negeri hanya berada di sekitar Rp11 ribu per kilogram.
Menurut Apkasindo, kondisi itu membuat penurunan harga sawit petani dinilai tidak masuk akal.
Gulat juga mengungkap harga mulai turun beberapa jam setelah pengumuman kebijakan DSI pada 20 Mei lalu.
Pemerintah Pastikan Ekspor Sawit Tetap Berjalan
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono memastikan aktivitas ekspor sawit tetap berjalan normal selama masa transisi kebijakan DSI.
Pemerintah juga menegaskan DSI tidak mengambil keuntungan tambahan dari transaksi ekspor.
Tak berhenti di situ, Satgas Pangan Polri turut dilibatkan untuk mengawasi pembelian TBS di lapangan.
Apkasindo mendukung langkah tersebut agar tidak ada lagi pabrik yang membeli sawit petani di bawah harga wajar.
“Tidak ada alasan lagi membeli murah TBS petani setelah penjelasan pemerintah hari ini,” ujar Gulat.
Dalam perkembangan selanjutnya, pemerintah berharap harga sawit kembali stabil setelah mekanisme DSI dipahami pelaku usaha.
