El Nino di Indonesia Diprediksi Aktif hingga Mei 2027

Merah Putih Global – Fenomena El Nino diperkirakan mulai aktif di Indonesia sejak Juni 2026 dan berpotensi berlangsung hingga Mei 2027. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengingatkan dampak El Nino tahun ini bisa lebih serius karena terjadi bersamaan dengan musim kemarau.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fatani mengatakan El Nino yang terjadi kali ini diprediksi memiliki intensitas moderate hingga kuat.

Jadi, kalau tahun ini aktif, akan berakhir kira-kira di bulan Maret sampai bulan Mei di tahun 2027,” kata Faisal, Jumat (23/5/2026).

Dalam realitas di lapangan, kondisi tersebut membuat musim kemarau di Indonesia diperkirakan berlangsung lebih panjang dibandingkan rata-rata normal.

Tak hanya itu, tingkat kekeringan juga diprediksi meningkat di sejumlah wilayah.

El Nino Bisa Membuat Kemarau Lebih Panjang

BMKG menjelaskan El Nino merupakan fenomena anomali iklim global yang muncul setiap tiga hingga tujuh tahun sekali.

Fenomena ini terjadi akibat peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur.

Namun pada 2026, El Nino muncul bersamaan dengan musim kemarau di Indonesia.

Akibatnya, dampak yang ditimbulkan diperkirakan lebih besar dibandingkan kondisi biasa.

Yang jadi sorotan, musim kemarau kali ini diprediksi lebih kering dibandingkan rata-rata dalam 30 tahun terakhir.

Dalam sudut pandang ini, penurunan curah hujan menjadi faktor utama yang perlu diwaspadai.

Gelombang Kelvin Picu El Nino Skala Besar

Sementara itu, para ilmuwan menemukan fenomena Gelombang Kelvin raksasa di bawah laut Samudra Pasifik.

Dikutip dari Futurism, gelombang tersebut terbentuk akibat perubahan kekuatan angin di wilayah Pasifik.

Hembusan angin barat secara mendadak mendorong massa air panas bergerak ke arah timur.

Pada praktiknya, perubahan itu membuat kumpulan air hangat meluas lebih jauh dibandingkan kondisi normal.

Efek langsungnya, suhu laut meningkat signifikan dan memicu El Nino berskala besar.

Para ilmuwan mencatat suhu air laut dalam fenomena itu mencapai 13,5 derajat Fahrenheit di atas rata-rata wilayah serupa.

The Wall Street Journal menyebut kondisi tersebut sebagai gelombang panas besar di lautan.

Ilmuwan Bandingkan El Nino 2026 dengan Tahun 1997

Peneliti Pusat Prediksi Iklim Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional, Michelle L’Heureux, mengatakan Gelombang Kelvin tahun ini sangat kuat.

Gelombang Kelvin saat ini sangat mengesankan dan, menurut beberapa ukuran yang kami lihat gelombang ini menyaingi gelombang yang kita lihat pada tahun 1997,” ungkapnya.

Yang menarik, El Nino tahun 1997 termasuk salah satu super El Nino terbesar dalam sejarah modern.

Dikutip dari WION, dunia terakhir kali mengalami fenomena serupa pada 1877.

Fenomena tersebut bahkan disebut menjadi El Nino terburuk dalam sekitar 150 tahun terakhir.

Hal ini terlihat dari suhu laut dalam yang membutuhkan waktu sangat lama untuk kembali normal.

Dampak El Nino Diperkirakan Bertahan Lama

Secara faktual, suhu laut dalam berubah jauh lebih lambat dibandingkan suhu di daratan.

Artinya, efek El Nino diperkirakan tidak akan cepat mereda dalam waktu dekat.

Di waktu yang sama, perubahan pola cuaca global diprediksi terus berlangsung selama suhu laut masih tinggi.

Konsekuensinya jelas, sejumlah negara termasuk Indonesia perlu mewaspadai dampak kemarau panjang hingga tahun depan.