Uwi Ditinggalkan, Kedaulatan Pangan Dipertaruhkan

MerahPutihGlobal.net – Uwi, umbi pangan yang berasal dari tanah Nusantara, pernah menjadi bagian penting sistem konsumsi masyarakat Indonesia. Namun hari ini, tanaman tersebut justru lebih mapan sebagai pangan strategis di berbagai negara, sementara di negeri asalnya kian tersisih.

Sejarah mencatat uwi telah menjadi komoditas pangan lintas kawasan sejak era Dinasti Liao hingga Dinasti Ming di China. Jalur perdagangan Selat Malaka berperan sebagai penghubung distribusi uwi di Asia, menandai posisinya dalam jaringan pangan regional selama berabad-abad.

Di Indonesia, perubahan pola konsumsi masyarakat ke beras berlangsung secara masif. Pergeseran ini berdampak langsung pada umbi-umbian. Uwi yang sebelumnya dibudidayakan secara luas perlahan kehilangan ruang dan berubah status menjadi tanaman liar.

Dikelola Serius di Luar Negeri

China, khususnya Provinsi Yunnan, mempertahankan uwi sebagai komoditas pertanian penting. Budidaya dilakukan lintas generasi dengan teknik pencetakan umbi sejak dini untuk menjaga bentuk dan ukuran. Pemanenan diatur berdasarkan usia tanaman, antara satu hingga tiga tahun, guna menjaga kualitas dan nilai ekonomi.

READ  Pemerintah Turun Tangan Atasi Harga Cabai Tinggi Jelang Lebaran 2026

Pendekatan serupa terlihat di Jepang, Taiwan, dan Filipina. Di Jepang, uwi dikenal sebagai nagaimo dan menjadi bagian konsumsi harian. Taiwan mengolahnya sebagai produk dessert bernilai tinggi, sementara Filipina memanfaatkannya dalam aneka pangan tradisional.

Ketergantungan Impor Menguat

Di sisi lain, struktur pangan Indonesia semakin bergantung pada beras dan gandum. Data Food and Agriculture Organization mencatat impor gandum Indonesia pada 2012 mencapai 6,2 juta ton dengan nilai sekitar Rp21 triliun. Indonesia tercatat sebagai pengimpor gandum terbesar kelima dunia.

Diversifikasi karbohidrat tidak diarahkan pada penguatan umbi-umbian lokal, melainkan pada komoditas impor sebagai substitusi beras. Kondisi ini mempersempit peran pangan Nusantara dalam sistem nasional.

Afrika dan Pilar Umbi

Nigeria menunjukkan pendekatan berbeda. Dengan keterbatasan iklim untuk produksi padi, negara ini mengandalkan umbi-umbian sebagai penyangga pangan. FAO mencatat Nigeria sebagai produsen uwi terbesar dunia dengan produksi lebih dari 37 juta ton pada 2011.

Indonesia memiliki keragaman spesies uwi yang besar. Namun tanpa kebijakan yang terintegrasi dari hulu ke hilir, pangan asli Nusantara ini terus berada di pinggir arsitektur ketahanan pangan nasional.***