
MerahPutihGlobal.net — Sebelum beras menjadi simbol kemajuan nasional, masyarakat Jawa membangun ketahanan pangan dari uwi dan umbi-umbian yang menopang hidup lintas generasi. Sejarah ini menunjukkan bahwa kekuatan pangan Nusantara pernah bertumpu pada keragaman, bukan keseragaman.
Kajian etnohistori mencatat bahwa sebelum abad ke-8 M, pola konsumsi masyarakat Jawa tidak bergantung pada satu komoditas. Uwi tumbuh di ladang kering dan kebun campur tanpa irigasi besar. Sistem ini membuat masyarakat relatif tahan terhadap perubahan iklim dan gagal panen.
Perluasan sawah irigasi pada masa kerajaan agraris mengubah lanskap produksi. Namun beras kala itu belum menjadi pangan harian mayoritas rakyat. Prasasti-prasasti agraria menunjukkan beras berfungsi sebagai upeti, bekal ritual, dan konsumsi elite. Umbi-umbian tetap menjadi penyangga utama dapur rakyat.
Pergeseran paling tajam terjadi pada abad ke-19 ketika penjajahan Belanda menata ulang pertanian Jawa. Padi diposisikan sebagai komoditas strategis untuk logistik dan pasar. Umbi-umbian tersingkir dari sistem produksi karena dianggap tidak efisien bagi kepentingan penjajahan. Bersamaan dengan itu, terbentuk stigma sosial yang menempatkan nasi sebagai simbol modernitas.
Setelah kemerdekaan, kebijakan pangan nasional melanjutkan orientasi beras-sentris. Beras dijadikan indikator kesejahteraan dan stabilitas harga. Program swasembada memperkuat monokultur, sementara pangan lokal non-beras kehilangan ruang kebijakan.
Padahal, secara global, uwi justru dipandang strategis. Sejumlah negara mengembangkan umbi genus Dioscorea sebagai pangan pokok dan bahan industri karena adaptif terhadap perubahan iklim. Fakta ini menunjukkan adanya jarak antara potensi lokal dan arah kebijakan nasional.
Guru Besar IPB Purwiyatno Hariyadi dalam berbagai forum pangan menegaskan bahwa ketergantungan pada satu sumber karbohidrat meningkatkan risiko ketahanan nasional. Keragaman pangan adalah fondasi daya tahan bangsa.
Hilangnya uwi dari meja makan Jawa bukan peristiwa alamiah. Ia adalah hasil kebijakan panjang yang mengabaikan arsip hidup pangan Nusantara. Di tengah krisis iklim dan tekanan pangan global, mengembalikan posisi uwi berarti memperkuat kedaulatan pangan berbasis sumber daya sendiri.
Ketahanan pangan tidak dibangun dari simbol, melainkan dari keberanian membaca sejarah dan mengelola keragaman. Uwi pernah menjadi fondasi itu.***
