Prokrastinasi Picu Gangguan Mental Mahasiswa, Ini Penjelasan UB

Merah Putih Global – Prokrastinasi atau kebiasaan menunda tugas menjadi salah satu pemicu gangguan kesehatan mental mahasiswa karena meningkatkan tekanan dan kecemasan menjelang tenggat waktu.

Hal ini disampaikan oleh tim Layanan Konseling Universitas Brawijaya, Dian Sudiono, dalam pelatihan Peer Counselor di Gedung Rektorat UB. Ia menekankan bahwa kebiasaan menunda bukan sekadar persoalan manajemen waktu, tetapi berpotensi berdampak langsung pada kondisi psikologis.

Prokrastinasi adalah penundaan. Jika tugas selalu dikerjakan mendekati tenggat, tekanan yang muncul dapat memicu gangguan kesehatan mental,” ujarnya.

Yang jadi sorotan, tekanan ini tidak berdiri sendiri. Prokrastinasi sering berkaitan dengan faktor lain yang memperparah kondisi mental mahasiswa.

Tekanan Akademik hingga Overcommitment

Selain kebiasaan menunda, Dian menyebut sejumlah faktor lain yang turut memicu gangguan mental. Di antaranya beban akademik yang tinggi, burnout, hingga persoalan pribadi.

Di sisi lain, tekanan ekonomi, adaptasi sosial, dan kebingungan dalam menentukan arah karier juga menjadi sumber stres yang kerap dialami mahasiswa.

Yang kerap luput diperhatikan, keterlibatan berlebihan dalam organisasi atau overcommitment juga dapat memperburuk kondisi. Aktivitas yang terlalu padat justru mengurangi waktu istirahat dan refleksi diri.

READ  BPJS dan Sehat Tentrem Tegaskan Komitmen Sosial untuk Peserta Jaminan Sosial

Dalam praktiknya, kombinasi faktor ini dapat memperbesar risiko gangguan kesehatan mental jika tidak dikelola dengan baik.

Tiga Indikator Awal Kesehatan Mental

Dian menjelaskan bahwa kondisi kesehatan mental dapat dikenali melalui tiga aspek utama. Pertama, kemampuan membangun hubungan yang sehat.

Individu yang memiliki kesehatan mental baik mampu menjalin relasi yang seimbang dan tidak bergantung pada satu orang saja.

Kedua, aktivitas produktif. Penurunan produktivitas secara signifikan dapat menjadi tanda awal adanya masalah psikologis.

Ketiga, kemampuan beradaptasi di berbagai lingkungan tanpa kehilangan jati diri. Aspek ini menjadi indikator penting dalam menilai stabilitas mental seseorang.

Jika tiga aspek ini terganggu, maka perlu diwaspadai sebagai indikasi awal,” tegasnya.

Dampak Penundaan yang Sering Diabaikan

Dalam sudut pandang ini, prokrastinasi bukan sekadar kebiasaan buruk, tetapi bagian dari pola yang dapat memicu tekanan berkelanjutan.

Akibatnya, mahasiswa cenderung mengalami kecemasan yang meningkat saat tenggat semakin dekat. Kondisi ini berpotensi mengganggu keseimbangan emosi dan fokus belajar.

Yang patut dicatat, tekanan yang berulang tanpa penanganan dapat berkembang menjadi masalah mental yang lebih serius.

READ  Dokter Richard Lee Ditahan Polda Metro Jaya Terkait Kasus Perlindungan Konsumen

Dalam konteks tersebut, pemahaman terhadap penyebab dan dampak prokrastinasi menjadi langkah awal dalam menjaga kesehatan mental mahasiswa di lingkungan akademik.