Minyakita Tersendat, Pasokan dan Distribusi Jadi Sorotan

Merah Putih Global – Minyakita menghadapi kendala pasokan dan distribusi yang membuat ketersediaannya belum merata di berbagai wilayah Indonesia, terutama di kawasan timur.

Perum Bulog mengakui stok di lapangan masih sangat terbatas karena belum ada tambahan pasokan dari produsen. Kondisi ini berdampak langsung pada distribusi ke pasar rakyat.

Sepanjang 2026, Bulog telah mendistribusikan sekitar 92 ribu kiloliter Minyakita, dengan hampir separuhnya disalurkan ke pasar SPHP dan pasar tradisional.

Pasokan Minyakita Belum Stabil

Keterbatasan pasokan menjadi faktor utama yang memengaruhi distribusi. Bulog menyebut belum adanya suplai tambahan membuat stok di sejumlah wilayah cepat menipis.

Dalam konteks ini, ketergantungan pada produsen menjadi titik kritis dalam menjaga stabilitas pasokan Minyakita.

Minyakita komersial di beberapa wilayah memang sangat terbatas,” ujar Muhammad Wawan Hidayanto.

Yang kerap luput diperhatikan, keterbatasan ini tidak hanya berdampak pada ketersediaan, tetapi juga memengaruhi distribusi antarwilayah.

Distribusi Berlapis Picu Biaya Tinggi

Distribusi ke wilayah terpencil menghadapi tantangan logistik yang kompleks. Di Maluku dan Papua, pengiriman harus melalui beberapa titik transit sebelum mencapai tujuan akhir.

READ  Pasar Hari Ini Dibayangi Minyak Naik dan Dolar Menguat

Proses berlapis ini membuat biaya distribusi meningkat. Sementara itu, subsidi ongkos angkut yang tersedia dinilai belum mampu menutup biaya tersebut.

Selain itu, keterbatasan gudang distribusi dan minimnya modal mitra penyalur turut memperlambat penyaluran Minyakita.

Dalam praktiknya, faktor-faktor ini menyebabkan distribusi tidak merata meskipun secara nasional stok masih tersedia.

Dinamika Harga dan Pergeseran Permintaan

Keterbatasan Minyakita mendorong masyarakat beralih ke minyak goreng curah. Pergeseran ini berdampak pada kenaikan harga minyak curah di pasar.

Data menunjukkan harga minyak curah naik signifikan, sementara Minyakita hanya mengalami kenaikan tipis.

Di sisi lain, Kementerian Perdagangan menilai faktor biaya kemasan juga memengaruhi harga minyak goreng, meski bukan penyebab utama lonjakan harga curah.

Dalam sudut pandang ini, pasokan Minyakita yang tersendat dinilai lebih berpengaruh terhadap perubahan pola konsumsi masyarakat.

Perbedaan antara data stok nasional dan kondisi distribusi di lapangan menjadi faktor yang terus dicermati dalam menjaga stabilitas pasokan minyak goreng.