Ideologi Asing dan Pertaruhan Kedaulatan Berpikir Bangsa

MerahPutihGlobal.net — Ideologi asing dalam pendidikan tidak hadir sebagai doktrin politik yang kasatmata. Ia bekerja melalui cara berpikir, standar pengetahuan, dan ukuran tentang apa yang dianggap rasional, modern, serta bernilai. Proses ini berlangsung diam-diam, diterima sebagai kewajaran, dan jarang disadari publik.

Sejumlah kajian pendidikan kritis menegaskan bahwa sekolah merupakan arena paling strategis bagi kerja ideologi. Pendidikan dimulai sejak usia dini, diulang setiap hari, dan membentuk kebiasaan berpikir jangka panjang. Di titik inilah ideologi bekerja paling efektif. Tanpa paksaan. Tanpa penolakan.

Dalam teori hegemoni, pemikir Italia Antonio Gramsci menjelaskan bahwa dominasi paling kuat justru tercipta ketika nilai luar diterima sebagai akal sehat bersama. Ideologi tidak dipaksakan, melainkan diinternalisasi secara sukarela.

Kerangka ini dipertegas oleh filsuf Prancis Louis Althusser, yang menyebut sekolah sebagai aparatus ideologis negara. Melalui pendidikan, kesadaran warga dibentuk jauh sebelum mereka memasuki ruang politik, ekonomi, dan kekuasaan.

Pendidikan Kolonial dan Jejaknya Hari Ini

Dalam konteks Indonesia, pendidikan modern lahir dari desain kolonial. Pada masa Hindia Belanda, sekolah tidak dirancang untuk membentuk manusia merdeka, melainkan tenaga terdidik yang patuh terhadap struktur kekuasaan.

READ  Pemerintah Belum Tetapkan Pencairan BSU 2026

Peran penasihat kolonial Snouck Hurgronje mencerminkan arah tersebut. Ia merekomendasikan pembatasan Islam pada wilayah ritual serta penghilangan nilai budaya lokal dari pendidikan formal. Ilmu Barat ditempatkan sebagai satu-satunya standar rasionalitas.

Struktur pemisahan antara ilmu, etika, dan spiritualitas Nusantara itu tidak sepenuhnya hilang setelah kemerdekaan. Ia bertahan dan beradaptasi dalam sistem pendidikan modern, kini dibungkus dalam bahasa globalisasi dan universalisme pengetahuan.

Pendidikan sebagai Medan Strategis Bangsa

Akademisi pendidikan kritis Henry A. Giroux menegaskan bahwa pendidikan tidak pernah netral. Ketika satu kerangka berpikir diposisikan sebagai universal, pengalaman historis dan nilai bangsa lain otomatis tersingkir.

Orientasi pendidikan yang menempatkan manusia sebagai sumber daya ekonomi juga menuai kritik. Pemikir Brasil Paulo Freire menilai model tersebut melemahkan kesadaran kritis dan etika sosial, sekaligus melanggengkan kepatuhan struktural.

Para akademisi menilai, kritik terhadap ideologi asing bukanlah penolakan terhadap dunia global. Yang dipertaruhkan adalah kedaulatan berpikir bangsa. Pendidikan Indonesia kini berada di persimpangan strategis: membiarkan kurikulum membentuk nalar tanpa kritik, atau memulihkan pendidikan sebagai ruang pemerdekaan manusia Indonesia.***

READ  Bantuan Korban Banjir Sumatera Dikebut, dari Kompensasi Rumah hingga Donasi Lintas Daerah

Penulis