
merahputihglobal.net – Banjir Sumatera akhir November 2025 menewaskan lebih dari 1.200 jiwa dan memaksa jutaan warga terdampak. Dari fase awal lebih dari dua juta orang terdampak, per 27 Februari 2026 tersisa 11.307 jiwa yang masih bertahan di tenda pengungsian. Negara kini mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi, dengan target relokasi sebelum Idul Fitri 2026.
Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan percepatan relokasi menjadi fokus utama fase ini.
“Kita harapkan secepat mungkin bisa menyelesaikan sebelum Idul Fitri. Kalau bisa sebelum Idul Fitri semua tidak ada di tenda tapi di huntara atau menerima dana tunggu hunian yang diberikan,” ujarnya, Sabtu (28/2/2026).
Target Relokasi dan Progres Hunian
Secara faktual, sebagian besar pengungsi yang tersisa berada di Provinsi Aceh sebanyak 10.394 jiwa. Di Sumatera Utara tercatat 913 jiwa. Sementara di Sumatera Barat, seluruh pengungsi telah meninggalkan tenda darurat.
Untuk mempercepat relokasi, Satgas PRR mendorong pembangunan hunian sementara dan hunian tetap. Target pembangunan hunian sementara di tiga provinsi mencapai 18.253 unit. Hingga 27 Februari 2026, realisasinya 10.498 unit atau 57 persen.
Pada sisi lain, pembangunan hunian tetap sedang berjalan sebanyak 1.363 unit dari target 36.669 unit. Enam unit hunian tetap di Sumatera Barat telah selesai dibangun.
Langkah ini menunjukkan percepatan struktural, bukan sekadar respons darurat.
Skema Bantuan dan Perbaikan Rumah
Selain pembangunan hunian baru, negara juga menyalurkan bantuan perbaikan rumah rusak secara bertahap. Lebih dari 73.000 unit rumah teridentifikasi mengalami kerusakan ringan, sedang, dan berat.
Proses verifikasi dan pencairan bantuan terus dikebut agar masyarakat dapat memperbaiki rumah secara mandiri. Dalam praktiknya, skema ini berjalan paralel dengan pembangunan huntara dan huntap.
Banjir Sumatera memang menyisakan luka mendalam. Namun pada fase rehabilitasi, titik tekan ada pada ketegasan eksekusi. Penurunan jumlah pengungsi dari jutaan menjadi belasan ribu dalam beberapa bulan memperlihatkan percepatan yang terukur.
Negara menempatkan relokasi, pembangunan hunian, dan pencairan bantuan sebagai prioritas utama. Data progres per 27 Februari 2026 menjadi indikator bahwa rekonstruksi tidak berjalan di tempat, melainkan bergerak dalam kerangka target waktu yang jelas.
