
MerahPutihGlobal.net — Tragedi meninggalnya Irene Sokoy (31) pada 19 November adalah sinyal keras bagi negara. Penolakan empat rumah sakit—alasan NICU penuh, ketiadaan dokter, hingga renovasi—tidak dapat ditoleransi ketika nyawa warga negara dipertaruhkan.
Kronologi sejak 16 November menunjukkan kegagalan komando layanan kesehatan. Tak adanya dokter spesialis di RSUD Yowari memicu rujukan berantai tanpa jaminan kepastian.
Aksi Pemuda Saireri dan gelombang tagar #LayaniDuluBayarBelakangan menunjukkan bahwa publik menuntut kepemimpinan negara yang lebih tegas.
Gubernur Mathius Fakhiri menyatakan: “Jika rumah sakit menolak pasien, saya copot direktur.” Senator Filep Wamafma menegaskan pelanggaran konstitusi dan mendesak reformasi sistem rujukan.
Papua, dengan AKI 565, membutuhkan intervensi pusat yang lebih kuat untuk memperbaiki manajemen fasilitas. Negara harus memastikan seluruh RS mematuhi Pasal 174 UU Kesehatan 17/2023—tanpa kompromi. (*)
