Alfamidi Pastikan Kopdes Merah Putih Tak Ganggu Bisnis Ritel Modern

Merah Puti Global – PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) memastikan program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih atau Kopdes Merah Putih tidak akan mengganggu bisnis ritel modern. Perseroan menilai koperasi dan ritel modern memiliki segmen pasar berbeda.

Direktur Corporate Legal dan Compliance MIDI, Afid Hermeily, menyatakan perusahaan tetap menghormati kebijakan pemerintah terkait pengembangan koperasi tersebut. Ia menyampaikan pernyataan itu usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Kamis 4 Juni 2026.

Menurut Afid, setiap pelaku usaha ritel memiliki strategi bisnis dan target konsumen masing-masing. Karena itu, keberadaan koperasi dinilai justru dapat saling melengkapi kebutuhan masyarakat.

Alfamidi Nilai Kopdes Merah Putih Punya Segmen Berbeda

Afid menegaskan Kopdes Merah Putih dan ritel modern tidak bersaing secara langsung. Dalam praktiknya, perseroan lebih banyak menyasar kawasan perkotaan dan pusat pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, koperasi desa memiliki fokus layanan yang berbeda sesuai kebutuhan masyarakat di tingkat lokal. Karena itu, MIDI menilai kedua model usaha dapat berjalan berdampingan.

Kami menghormati kebijakan pemerintah terkait pengembangan Kopdes Merah Putih. Kami juga menilai keberadaan koperasi tersebut tidak akan mengganggu model bisnis perseroan yang menyasar segmen pasar berbeda,” ujar Afid.

Ia menambahkan perusahaan tetap mematuhi seluruh regulasi pemerintah pusat maupun daerah. Meski begitu, hingga kini belum ada dampak material terhadap operasional bisnis perseroan.

Pembatasan Ekspansi Ritel Dinilai Belum Berdampak

Afid juga menanggapi wacana pembatasan operasional dan ekspansi ritel modern di sejumlah daerah. Menurutnya, kondisi tersebut belum memengaruhi kinerja perusahaan secara signifikan.

Dalam konteks tersebut, lokasi gerai Alfamidi mayoritas berada di kawasan urban dan pusat ekonomi. Artinya, segmentasi pasar perseroan masih berbeda dengan koperasi desa.

Namun demikian, kami tetap tunduk dan patuh terhadap seluruh regulasi yang berlaku. Termasuk ketentuan yang ditetapkan pemerintah daerah,” kata Afid.

Yang jadi sorotan, perseroan tetap melanjutkan strategi pengembangan jaringan ritel modern sepanjang 2026. Fokus tersebut dinilai sejalan dengan rencana bisnis perusahaan.

MIDI Targetkan Buka 200 Gerai Alfamidi pada 2026

Direktur Keuangan MIDI, Suantopo Po, mengungkapkan perusahaan menargetkan pembukaan 200 gerai baru Alfamidi sepanjang 2026. Untuk mendukung ekspansi itu, perusahaan menyiapkan belanja modal sekitar Rp1,5 triliun.

Menurutnya, kebutuhan investasi tersebut dialokasikan khusus untuk pengembangan jaringan gerai baru. Selain itu, ekspansi dilakukan untuk memperkuat posisi perusahaan di pasar ritel modern.

Dapat kami sampaikan bahwa perseroan menargetkan pembukaan gerai sebanyak 200 gerai tahun 2026. Adapun kebutuhan capex-nya adalah sekitar Rp1,5 triliun,” ujar Suantopo.

Pada 2025, MIDI telah membuka 152 gerai baru. Rinciannya, sebanyak 135 gerai berformat Alfamidi dan 18 gerai lainnya berupa Alfamidi Super.

Gerai Alfamidi Tumbuh Pesat di Luar Pulau Jawa

Hingga akhir 2025, jumlah gerai perseroan mencapai 2.587 unit. Dari total tersebut, sebanyak 2.503 gerai merupakan Alfamidi, 80 gerai Alfamidi Super, dan empat gerai Midi Fresh.

Di sisi lain, perusahaan menutup satu gerai Midi Fresh akibat berakhirnya masa sewa lokasi. Meski begitu, pertumbuhan jaringan Alfamidi tetap menunjukkan tren positif.

Suantopo menyebut sekitar 54 persen gerai Alfamidi kini berada di luar Pulau Jawa. Sementara itu, gerai di luar Jabodetabek tetapi masih di Pulau Jawa mencapai 21,3 persen.

Untuk Alfamidi tumbuh 6 persen dari sisi jumlah gerai. Untuk Alfamidi Super, tumbuh 29 persen karena memang base-nya kecil,” kata Suantopo.

Ia menegaskan Alfamidi masih menjadi kontributor utama pendapatan perusahaan dengan porsi mencapai 92,9 persen terhadap pendapatan neto perseroan.