Pemkot Jakbar Gandeng Swasta Uji Pirolisis Kurangi Sampah Kota

Merah Putih Global – Pirolisis Jakarta Barat mulai diuji sebagai langkah konkret pemerintah kota dalam menekan volume sampah sekaligus mengembangkan pengolahan berbasis teknologi.

Pemerintah Kota Jakarta Barat menggandeng PT Kimia Alam Subur untuk mendukung implementasi teknologi ini melalui kajian teknis dan operasional.

Kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya mempercepat penanganan sampah yang selama ini bergantung pada tempat pembuangan akhir.

Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutmainnah menyatakan bahwa teknologi ini mampu mereduksi sampah secara signifikan.

“Bila teknologi ini diterapkan, maka masalah sampah di Jakarta Barat dapat teratasi dengan baik,” kata Iin.

Tahapan Implementasi Pirolisis di Jakarta Barat

Saat ini, pemerintah masih berada pada tahap awal berupa kajian dan survei lokasi.

Penentuan lokasi dilakukan dengan mempertimbangkan aspek teknis, lingkungan, serta penerimaan masyarakat sekitar.

Di waktu bersamaan, kajian ilmiah disiapkan untuk memastikan proses berjalan sesuai standar.

Langkah ini dilakukan agar implementasi tidak menimbulkan persoalan baru di kemudian hari.

Artinya, proses penerapan dilakukan secara bertahap dan terukur.

READ  Revitalisasi Kota Tua Jakarta Fokus Transportasi Trem Rendah Emisi

Peran Mitra Swasta dalam Proyek

PT Kimia Alam Subur berperan dalam mendukung pengembangan teknologi serta operasional sistem.

Direktur perusahaan, Hermawan Wibisono, menjelaskan bahwa teknologi ini menggunakan metode pemanasan tanpa oksigen.

Teknologi ini tidak menggunakan pembakaran langsung, melainkan pemanasan tanpa oksigen,” ujarnya.

Dengan metode tersebut, sampah dipanaskan hingga suhu 400–700 derajat Celsius untuk diuraikan menjadi uap.

Uap tersebut kemudian dikondensasikan menjadi minyak dan gas yang dapat dimanfaatkan kembali.

Efisiensi dan Target Pengurangan Sampah

Secara teknis, teknologi pirolisis mampu mengurangi volume sampah hingga sekitar 90 persen.

Sisa residu yang dihasilkan hanya sekitar 10 persen dari total sampah awal.

Hal ini berdampak langsung pada berkurangnya beban tempat pembuangan akhir.

Di sisi lain, hasil olahan juga memiliki nilai ekonomi karena dapat dimanfaatkan dalam berbagai kebutuhan industri.

Persiapan Menuju Implementasi Penuh

Pemerintah menargetkan kerja sama dapat segera diformalkan setelah tahap survei dan penjajakan teknis selesai.

Untuk sampah organik, proses pengolahan diperkirakan berlangsung sekitar 1,5 jam untuk kapasitas 30 ton.

READ  SKB 7 Menteri Buka Jalan AI di Perguruan Tinggi

Yang perlu dicermati, keberhasilan implementasi tetap bergantung pada kesiapan teknis serta dukungan berbagai pihak.

Dalam praktiknya, pengembangan teknologi ini menjadi bagian dari strategi pengelolaan sampah yang lebih modern dan terintegrasi.