Penangkapan Ikan Sapu-Sapu di Kali Cideng Ungkap Ancaman Lingkungan

merah putih global – Penangkapan ikan sapu-sapu di Kali Cideng menjadi sorotan setelah ditemukan dampak serius terhadap lingkungan perairan. Aksi ini merupakan bagian dari kerja bakti lintas instansi untuk mengendalikan spesies invasif di Jakarta.

Kegiatan tersebut melibatkan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP), PPSU, serta sejumlah instansi lainnya. Penangkapan dilakukan di kawasan depan Plaza Indonesia, Kelurahan Gondangdia.

Dalam kegiatan itu, puluhan ikan sapu-sapu berhasil ditangkap dari aliran kali.

Temuan Pencemaran pada Ikan dan Air

Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta Hasudungan A Sidabalok mengungkapkan hasil pengujian sebelumnya menunjukkan adanya kandungan berbahaya.

Ikan mengandung Salmonella serta E.Coli juga residu logam berat,” ujarnya.

Temuan ini menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu hidup di lingkungan yang tercemar. Dalam praktiknya, kondisi tersebut berdampak pada kualitas air dan kesehatan ekosistem.

Di sisi lain, pencemaran ini juga menjadi dasar kuat untuk melanjutkan program penertiban.

Teknis Penangkapan dan Penanganan

Dalam pelaksanaannya, sekitar 100 personel gabungan dikerahkan untuk melakukan penangkapan. Mereka berasal dari berbagai instansi, termasuk Satpol PP, lingkungan hidup, hingga pemadam kebakaran.

READ  Bupati Cilacap dari Partai Apa? OTT KPK Picu Sorotan Publik

Wali Kota Jakarta Pusat Arifin menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu kerap bersembunyi di turap sungai. Hal ini menyulitkan proses penangkapan sekaligus menyebabkan kerusakan struktur.

“Ikan sapu-sapu menyimpan telurnya juga di turap,” katanya.

Setelah ditangkap, ikan dimatikan dengan cara tertentu sebelum dikubur. Langkah ini dilakukan karena daya tahan hidup ikan tersebut sangat tinggi.

Pengelolaan Pasca Penangkapan

Ikan yang telah ditangkap kemudian dibawa ke fasilitas khusus sebelum dimusnahkan. Proses ini dilakukan untuk memastikan ikan tidak kembali hidup di lingkungan perairan.

Dalam praktiknya, metode penguburan dipilih sebagai langkah akhir untuk menghindari penyebaran kembali.

Upaya Pengendalian Berkelanjutan

Program penertiban ini disebut akan dilakukan secara bertahap. Sebelumnya, langkah serupa juga telah dilakukan di Kali Ciliwung dengan pendekatan yang sama.

Hasudungan menyebut Kali Cideng relatif lebih mudah dikendalikan karena panjang salurannya lebih pendek.

Dengan demikian, pengendalian populasi di lokasi ini diharapkan dapat berjalan lebih efektif dibandingkan wilayah lain.