Modal Asing Kabur dari Thailand, Dampak Perang Iran Meluas

Merah Putih Global – Modal asing Thailand mengalami arus keluar besar sejak konflik Iran memanas, mencerminkan perubahan tajam sentimen investor global terhadap pasar keuangan negara tersebut. Tekanan ini muncul bersamaan dengan lonjakan harga energi dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi.

Data LSEG mencatat investor asing melakukan penjualan bersih saham senilai US$ 823 juta pada Maret 2026. Selain itu, dana sebesar US$ 705 juta juga ditarik dari pasar obligasi.

Angka ini menjadi arus keluar gabungan terbesar sejak Oktober 2024. Padahal, pada Februari sebelumnya, pasar Thailand sempat mencatat pembelian bersih sebesar US$ 1,7 miliar.

Perubahan ini terjadi dalam waktu singkat, menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap dinamika global.

Perubahan Sentimen Terjadi Secara Mendadak

Lonjakan ketegangan geopolitik menjadi pemicu utama pembalikan arus modal. Investor global merespons risiko dengan mengalihkan dana ke aset yang lebih aman.

Dalam praktiknya, Thailand yang bergantung pada energi impor menjadi salah satu negara yang paling terdampak. Kenaikan harga energi meningkatkan risiko inflasi dan menekan pertumbuhan.

READ  Riset 2025 Tegaskan Keunggulan Maritim Nusantara 40 Ribu Tahun Lebih Maju dari Dunia

Kondisi ini membuat daya tarik pasar keuangan Thailand menurun di mata investor.

Yang patut dicatat, perubahan sentimen ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor domestik. Risiko global memainkan peran dominan dalam keputusan investasi.

Di sisi lain, pasar yang sebelumnya stabil kini menghadapi tekanan volatilitas yang lebih tinggi.

Arus Keluar Modal Tekan Stabilitas Pasar Keuangan

Penarikan dana asing berdampak langsung pada pasar saham dan obligasi. Likuiditas menurun, sementara tekanan jual meningkat.

Akibatnya, nilai aset keuangan mengalami koreksi. Dalam jangka pendek, kondisi ini dapat memperlemah nilai tukar baht.

Di waktu yang sama, arus keluar modal juga mempersempit ruang pembiayaan bagi pemerintah dan sektor swasta.

Jika guncangan ini berlanjut, ini bukan lagi sekadar isu makro, melainkan mulai memengaruhi operasional sehari-hari,” ujar Manajer Investasi Aberdeen Investments, Nattanont Arunyakananda.

Dalam konteks ini, dampak tidak berhenti pada pasar finansial. Efeknya mulai merembet ke aktivitas ekonomi riil.

Investor Hadapi Risiko Energi dan Ketidakpastian Kebijakan

Merah Putih Global
Bank of Thailand

Salah satu faktor utama yang mendorong keluarnya modal adalah lonjakan harga energi. Harga minyak yang tinggi meningkatkan biaya produksi dan menekan profitabilitas perusahaan.

READ  Mojtaba Khamenei Pimpin Iran: Komando Tegas Lawan Agresi Asing

Selain itu, investor juga mencermati keterbatasan kebijakan pemerintah Thailand. Utang publik yang mencapai 66 persen dari PDB membatasi ruang fiskal.

Di sisi moneter, opsi kenaikan suku bunga juga dinilai tidak sepenuhnya efektif. Inflasi yang terjadi lebih banyak dipicu oleh gangguan pasokan.

Kondisi ini menciptakan dilema kebijakan yang sulit. Pemerintah harus menjaga stabilitas tanpa mengorbankan pertumbuhan.

Yang kerap luput diperhatikan, ketidakpastian ini membuat investor cenderung menunda ekspansi atau menarik dana.

Dalam perkembangan selanjutnya, pasar keuangan Thailand menjadi lebih rentan terhadap tekanan eksternal.

Perubahan arus modal ini menunjukkan bahwa modal asing Thailand tidak hanya bergerak berdasarkan peluang, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh persepsi risiko global.