Israel Kucurkan Rp11,6 Triliun untuk Perbaiki Citra Global di Tengah Tekanan

Merah Putih Global – Israel mengalokasikan anggaran besar untuk memperbaiki citra internasional yang terus menurun, dengan total dana mencapai US$ 730 juta atau sekitar Rp 11,6 triliun dalam anggaran nasional 2026.

Langkah ini dilakukan melalui direktorat diplomasi publik nasional yang dikenal sebagai Hasbara. Lonjakan anggaran tersebut mencerminkan respons terhadap meningkatnya tekanan global terkait konflik di Gaza dan dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah.

Data yang dihimpun menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya berada di angka US$ 150 juta.

Mengapa Israel Tingkatkan Anggaran Hasbara Secara Drastis?

Kenaikan anggaran Hasbara dinilai berkaitan langsung dengan kondisi citra Israel yang berada dalam tekanan. Di panggung internasional, negara tersebut menghadapi tuduhan serius di Mahkamah Internasional (ICJ).

Selain itu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu juga berstatus buronan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Dalam konteks ini, tekanan tidak hanya datang dari negara yang berseberangan. Bahkan, sekutu dekat seperti Amerika Serikat mulai menunjukkan perubahan sikap.

READ  Gelombang Serangan Dahiyeh Jadi yang Terbesar Sejak Konflik Hizbullah

Sebuah survei dari Pew Research Center mencatat sekitar 60 persen warga Amerika memiliki pandangan tidak menguntungkan terhadap Israel.

Perubahan Opini Publik di Negara Sekutu

Penurunan dukungan terlihat meluas ke berbagai kelompok, termasuk pemilih muda di Partai Republik serta komunitas Yahudi di Amerika.

Hal ini menjadi indikator bahwa perubahan persepsi tidak lagi terbatas pada kelompok tertentu, melainkan telah meluas secara sosial dan politik.

Dalam praktiknya, dinamika ini berdampak pada posisi Israel di berbagai forum internasional.

Strategi Israel Bangun Narasi Internasional

Untuk merespons situasi tersebut, Kementerian Luar Negeri Israel membentuk unit khusus yang bertugas membangun narasi global.

Mereka menggelontorkan puluhan juta dolar untuk kampanye digital, termasuk dana sebesar US$ 50 juta untuk iklan di berbagai platform media sosial,” tulis laporan Middle East Eye.

Kampanye ini difokuskan pada distribusi pesan melalui media digital guna menjangkau audiens global secara lebih luas.

Di sisi lain, pendekatan langsung juga dilakukan dengan mengundang ratusan delegasi asing. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari politisi hingga pemimpin akademik.

READ  Kedaulatan Nasional: Pakistan Umumkan Perang Terbuka Lawan Taliban

Program ini dirancang untuk membangun pengalaman langsung yang selaras dengan sudut pandang pemerintah Israel.

Peran Teknologi dan AI dalam Diplomasi Publik Israel

Selain pendekatan konvensional, Israel juga memanfaatkan teknologi dalam strategi komunikasinya.

Negara tersebut dilaporkan menjalin kerja sama senilai US$ 1,5 juta per bulan dengan pihak yang terkait dengan mantan pakar strategi Donald Trump, Brad Parscale.

Kerja sama ini difokuskan pada penggunaan kecerdasan buatan untuk menyebarkan narasi secara terukur di ruang digital.

Dalam perkembangan yang sama, peneliti dari Institute for National Security Studies (INSS) Tel Aviv menilai Israel tengah menghadapi isolasi diplomatik yang signifikan.

Mereka menyebut kondisi ini sebagai “boikot ekonomi yang merayap,” di mana institusi akademik dan bisnis internasional mulai membatasi kerja sama.

Kondisi tersebut mencerminkan perubahan hubungan global yang berdampak langsung pada posisi Israel di berbagai sektor.