Indonesia Pimpin Optimisme Dunia 2026 di Tengah Dunia Terbelah

MerahPutihGlobal.net – Indonesia menegaskan posisinya di puncak optimisme global pada 2026. Survei internasional yang dirilis Ipsos mencatat 90 persen warga Indonesia optimistis bahwa 2026 akan lebih baik dibandingkan 2025, tertinggi di antara seluruh negara yang disurvei.

Capaian ini jauh melampaui rata-rata global sebesar 71 persen. Indonesia berada di atas negara-negara Amerika Latin dan Asia yang juga mencatat tingkat optimisme tinggi, sekaligus menandai kuatnya kepercayaan publik domestik di tengah ketidakpastian global.

Survei Ipsos dilakukan secara daring pada 24 Oktober hingga 7 November 2025 dengan melibatkan 23.642 responden dewasa dari berbagai negara. Di Indonesia dan Singapura, responden berusia 21–74 tahun. Di Thailand, rentang usia responden 20–74 tahun, sementara di India responden berusia 18 tahun ke atas.

Temuan ini muncul di tengah evaluasi negatif terhadap kondisi tahun berjalan. Secara global, 66 persen responden menilai 2025 sebagai tahun yang buruk bagi negara mereka. Sebanyak 50 persen responden juga menyebut 2025 berdampak buruk bagi diri dan keluarga.

READ  Negara Tegaskan Batas Ujaran Kebencian Digital

Optimisme sebagai Daya Tahan Nasional

Meski tekanan global masih kuat, mayoritas responden dunia tetap menaruh harapan pada masa depan. Sebanyak 71 persen responden global optimistis bahwa 2026 akan lebih baik. Indonesia memimpin optimisme tersebut dengan selisih yang tegas.

Dominasi Global South terlihat jelas. Tujuh dari 10 negara paling optimistis berasal dari kawasan negara berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Pola ini menunjukkan bahwa harapan dan kepercayaan publik justru tumbuh kuat di tengah keterbatasan dan tantangan struktural.

Namun, pandangan terhadap ekonomi global masih terbelah. Sebanyak 49 persen responden memperkirakan ekonomi dunia akan membaik pada 2026, sementara 51 persen menilai kondisi global justru akan memburuk. Ipsos mencatat sentimen ekonomi di 19 dari 30 negara cenderung stagnan atau menurun.

Sebagai konteks, optimisme global mengalami tekanan berat sejak akhir 2022 akibat lonjakan inflasi, dampak pandemi, dan konflik geopolitik. Hingga kini, keyakinan terhadap pemulihan ekonomi dunia belum sepenuhnya pulih, menjadikan optimisme Indonesia sebagai anomali positif di peta global.***