
Merah Putih Global – Dokter spesialis mata Tri Wahyu mengingatkan pentingnya melindungi mata dari paparan sinar ultraviolet (UV), terutama bagi masyarakat yang sering beraktivitas di luar ruangan. Menurutnya, perlindungan yang tepat dapat membantu mengurangi risiko gangguan kesehatan mata hingga penyakit yang lebih serius.
Ia menjelaskan bahwa penggunaan kacamata hitam dengan perlindungan UV bukan hanya untuk menunjang kenyamanan saat berada di bawah terik matahari. Lebih dari itu, alat tersebut berfungsi sebagai perlindungan terhadap dampak jangka panjang akibat paparan sinar matahari.
Dalam sebuah diskusi di Jakarta, Tri Wahyu menegaskan bahwa perlindungan terhadap sinar UV seharusnya menjadi perhatian semua orang, baik perempuan maupun laki-laki.
Kacamata Hitam Berfungsi sebagai Pelindung Mata
Menurut Tri Wahyu, aktivitas di ruang terbuka dalam waktu lama membuat area mata terus terpapar sinar matahari. Karena itu, penggunaan pelindung menjadi langkah yang perlu diperhatikan.
“Kalau kita aktivitas di ruang terbuka yang terkena sinar matahari lama, sunscreen protection itu perlu, tidak cuma untuk perempuan, tapi laki-laki juga perlu,” ujarnya.
Selain melindungi bagian mata, kacamata hitam dengan perlindungan UV juga membantu menjaga area sekitar mata, termasuk kelopak mata yang sering terpapar langsung oleh sinar matahari.
Yang perlu digarisbawahi, paparan sinar UV secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko kerusakan jaringan dalam jangka panjang.
Paparan UV Dapat Meningkatkan Risiko Tumor Kelopak Mata
Tri Wahyu menjelaskan bahwa salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah munculnya karsinoma sebasea. Kondisi tersebut merupakan tumor ganas yang menyerang kelenjar minyak pada kulit kelopak mata.
Menurutnya, paparan sinar matahari yang terjadi selama bertahun-tahun dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko penyakit tersebut.
Selain karsinoma sebasea, terdapat pula jenis kanker kulit lain yang dapat muncul di sekitar mata. Di antaranya adalah karsinoma sel basal dan karsinoma sel skuamosa.
Meski kasusnya tergolong jarang, tumor kelopak mata tetap memiliki kontribusi terhadap jumlah kasus kanker kulit secara keseluruhan.
Secara faktual, tumor kelopak mata menyumbang sekitar 5 hingga 10 persen dari seluruh kasus kanker kulit yang ditemukan.
Gejala Awal Sering Mirip Bintitan
Yang jadi sorotan, gejala awal karsinoma sebasea sering menyerupai bintitan atau hordeolum. Kondisi tersebut membuat sebagian pasien tidak menyadari adanya masalah yang lebih serius.
Gejala yang umum muncul antara lain benjolan kecil pada kelopak mata, kemerahan, serta pembengkakan. Karena kemiripannya dengan infeksi biasa, kondisi tersebut kerap dianggap tidak berbahaya.
Namun, Tri Wahyu mengingatkan bahwa kewaspadaan tetap diperlukan apabila benjolan tidak menunjukkan perbaikan setelah menjalani pengobatan standar.
“Namun dengan tindakan, dengan obat-obatan, dia tidak responsif dan memberikan hasil yang buruk, makanya curiga ke arah keganasan,” katanya.
Dalam konteks tersebut, pemeriksaan lanjutan menjadi penting untuk memastikan penyebab benjolan yang muncul pada kelopak mata.
Tidak Semua Benjolan Bersifat Ganas
Meski demikian, Tri Wahyu menegaskan bahwa tidak semua benjolan pada kelopak mata merupakan tanda kanker atau tumor ganas.
Hordeolum atau bintitan biasanya terjadi akibat infeksi pada kelenjar di tepi kelopak mata. Sementara itu, kalazion muncul karena penyumbatan kelenjar minyak.
Kedua kondisi tersebut umumnya dapat ditangani dengan pengobatan yang sesuai. Penanganan dapat berupa pemberian antibiotik, obat tetes mata, salep, hingga kompres hangat secara rutin.
Di sisi lain, masyarakat tetap perlu memperhatikan perkembangan gejala. Jika benjolan tidak kunjung membaik atau terus membesar, pemeriksaan ke dokter mata menjadi langkah yang perlu dilakukan.
Tri Wahyu juga menambahkan bahwa risiko akibat paparan sinar UV lebih tinggi pada individu berkulit terang. Kendati demikian, masyarakat Asia dengan kulit sawo matang tetap tidak sepenuhnya terlindungi dari dampak paparan sinar ultraviolet dalam jangka panjang.
