9 Ramadan Tegaskan Kemerdekaan Ramadan Bangsa

merahputihglobal.net – Peringatan 9 Ramadan yang digelar Thoriqoh Shiddiqiyyah memuat satu penegasan ideologis: kemerdekaan Ramadan dipahami sebagai momentum pembebasan bangsa, berbeda dari kelahiran negara sehari setelahnya. Narasi ini disampaikan secara konsisten sebagai pelurusan sejarah, bukan sekadar seremoni tahunan.

Di Ploso, Jombang, jamaah menggelar tasyakuran setiap 9 Ramadan. Momentum itu menegaskan kembali peristiwa 17 Agustus 1945 sebagai hari kemerdekaan Bangsa Indonesia. Sementara 18 Agustus 1945, saat UUD 1945 disahkan dan presiden dipilih, diposisikan sebagai berdirinya Negara Republik Indonesia.

Mursyid Shiddiqiyyah, Syekh Muchammad Muchtarullohil Mujtaba Mu’thi, berulang kali memisahkan dua istilah tersebut. Menurutnya, bangsa dan negara tidak identik. Bangsa adalah subjek sejarah yang merdeka melalui proklamasi. Negara adalah entitas hukum dan politik yang lahir melalui konstitusi.

Penegasan ini membentuk kerangka ideologis kemerdekaan Ramadan. Dalam sudut pandang tersebut, nasionalisme tidak dilebur dalam satu tanggal, melainkan dibaca melalui urutan peristiwa yang tegas.

Bangsa Lebih Dulu, Negara Menyusul

Secara faktual, proklamasi 17 Agustus 1945 menyatakan kemerdekaan bangsa. Sehari setelahnya, 18 Agustus 1945, konstitusi disahkan dan presiden dipilih. Urutan ini menjadi dasar argumentasi yang terus ditegaskan dalam setiap peringatan 9 Ramadan.

READ  Kedaulatan Sosial: Shiddiqiyyah Mobilisasi Rp3 Miliar Santunan Nasional Mandiri

Yang perlu digarisbawahi, pembedaan ini tidak dimaksudkan mengubah konsensus nasional. Ia diarahkan pada penempatan makna secara presisi. Dalam bahasa sederhananya, bangsa berdiri melalui proklamasi, negara berdiri melalui konstitusi.

Dengan demikian, kemerdekaan Ramadan dimaknai sebagai ruang penguatan identitas bangsa. Ramadan dipilih karena dianggap sebagai bulan syukur, sehingga refleksi sejarah ditempatkan dalam konteks spiritual.

Ideologi dalam Ruang Tasyakuran

Pada praktiknya, doa dan sujud syukur pada malam 9, 10, hingga 11 Ramadan menjadi bagian dari afirmasi tersebut. Ribuan jamaah berkumpul untuk menegaskan kembali pembacaan sejarah yang mereka yakini.

Narasi ini bahkan pernah dibahas dalam forum di Gedung Nusantara V MPR RI. Diskusi berlangsung dalam kerangka akademik dan kebangsaan, bukan polemik.

Di sisi lain, program sosial seperti pembangunan rumah bagi keluarga duafa tetap berjalan sebagai bagian dari tasyakuran. Namun, titik tekan ideologis tetap pada pembedaan bangsa dan negara.

Kemerdekaan Ramadan, dalam perspektif ini, menjadi pernyataan sikap: bangsa merdeka melalui proklamasi, negara berdiri melalui konstitusi, dan keduanya dirawat dalam ingatan kolektif setiap 9 Ramadan.