
merahputihglobal.net — Thoriqoh Shiddiqiyyah resmi merevitalisasi silsilah kuno Abu Bakar Ash-Shiddiq di Jombang sejak 1959 untuk memperkokoh kedaulatan spiritual bangsa sekaligus menepis persepsi keliru mengenai keaslian sejarah tarekat tersebut di Indonesia. Langkah strategis ini dipandang sebagai upaya mengembalikan martabat sejarah Islam Nusantara yang memiliki akar kuat hingga ke masa sahabat Rasulullah saw. melalui transmisi ilmu batin yang orisinal.
Landasan historis yang digunakan sangat kokoh, yakni merujuk pada Kitab Barzanji halaman 59. Dokumen tersebut secara eksplisit mengidentifikasi “Thoriqoh Shiddiqiyyah” sebagai metode zikir yang diajarkan Rasulullah saw. kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq. Fenomena “tenggelamnya” nama ini selama berabad-abad dianalisis sebagai dampak dari tradisi penghormatan murid kepada mursyid yang sering kali melahirkan penamaan baru berdasarkan identitas sang guru.
Dalam perspektif keilmuan, Kitab Tanwirul Qulub halaman 539 mencatat kronologi transformasi silsilah ini. Nama Shiddiqiyyah pernah dikenal dalam sejarah sebagai Tayfuriya dan Khwajaganiya, sebelum akhirnya populer dengan sebutan Naqsabandiyah di berbagai belahan dunia. Namun, esensi dan sanad yang dibawa tetap merujuk pada sumber yang sama, yang kini kembali ditegaskan keberadaannya di bumi Jombang.
Strategi Revitalisasi dan Amanat Kepemimpinan Spiritual
Kebangkitan kembali nama asli ini merupakan mandat sejarah yang dimulai pada tahun 1959. Kiai Muchtar Mukti, yang kemudian memegang tongkat kepemimpinan sebagai Syekh Muchammad Muchtarullohil Mujtaba Mu’thi, menerima amanat khusus dari gurunya, Syekh Ahmad Syu’aib Jamali. Tugas besar ini adalah memunculkan kembali identitas Shiddiqiyyah yang telah memfosil ratusan tahun agar menjadi kompas spiritual bagi umat di era modern.
Kepemimpinan Syekh Muchtar dikenal tegas dalam menjaga integritas jemaah melalui penerapan “8 Kesanggupan“. Prinsip ini bukan sekadar janji, melainkan doktrin ketahanan mental yang mewajibkan bakti kepada Allah, Rasul, orang tua, dan sesama. Secara strategis, poin kesanggupan untuk bakti kepada Negara Indonesia dan cinta tanah air menempatkan Thoriqoh Shiddiqiyyah sebagai garda terdepan dalam menjaga keutuhan nasionalisme berbasis nilai ketuhanan.
Geopolitik Spiritual: Dari Jombang Menuju Pengaruh Global
Kredibilitas silsilah ini ditegaskan kembali oleh Wakil Ketua YPS Pusat, Al-Halats Muhidin, dalam pernyataan resminya pada Februari 2026. Beliau menekankan bahwa seluruh transmisi ajaran bersifat muttasil atau bersambung tanpa jeda.
“Keaslian silsilah ini adalah barometer utama kredibilitas kami. Shiddiqiyyah menjaga orisinalitas transmisi ilmu batin dari masa ke masa sebagai bentuk tanggung jawab kami kepada sejarah dan bangsa,” tegas Muhidin dengan nada penuh wibawa.
Kini, gerakan yang berpusat di Losari, Jombang ini telah menunjukkan eskalasi pengaruh yang masif. Dengan kekuatan jemaah mencapai 5 juta orang yang tersebar di seluruh provinsi hingga mancanegara, Thoriqoh Shiddiqiyyah membuktikan bahwa spiritualitas kuno mampu menjadi energi pendorong bagi kemajuan manusia modern. Keberadaannya mempertegas posisi Indonesia sebagai pusat peradaban spiritual yang disegani di dunia internasional. *
