
MerahPutihGlobal.net – Thoriqoh Shiddiqiyyah menandai satu jalur penting dalam sejarah spiritual Islam yang berpaut langsung dengan peristiwa Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad SAW. Dari peristiwa inilah lahir nilai shiddiq—kejujuran dan pembenaran tanpa ragu—yang kemudian berkembang sebagai fondasi etika spiritual dan sosial lintas generasi.
Isro’ Mi’roj merupakan peristiwa besar yang menguji keimanan umat. Ketika Rasululloh SAW menyampaikan perjalanan dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha di Palestina hingga Sidratul Muntaha, respons masyarakat terbelah. Di tengah gelombang keraguan dan penolakan, Abu Bakar Ash-Shiddiq RA tampil membenarkan peristiwa tersebut tanpa syarat.
Sikap ini bukan sekadar pembelaan personal, melainkan pernyataan iman yang tegas. Dari sinilah gelar Ash-Shiddiq dilekatkan kepada Abu Bakar, sekaligus menjadi penanda lahirnya golongan Shiddiq—mereka yang membenarkan kebenaran Rasululloh dengan keyakinan utuh. Prinsip inilah yang menjadi dasar jalan spiritual Shiddiqiyyah.
Perkembangan ajaran ini mencapai fase penting pada abad ke-9 Masehi di bawah kepemimpinan Syekh Abu Yazid Al-Busthomi. Di wilayah Busthom, Iran, dan Irbil, Irak, Shiddiqiyyah berkembang sebagai arus utama tasawuf yang membentuk karakter masyarakat. Kejujuran diposisikan sebagai inti iman, bukan sekadar norma sosial.
Namun, setelah wafatnya Abu Yazid Al-Busthomi pada 874 M, nama Shiddiqiyyah perlahan menghilang dari ruang publik. Catatan ulama Irbil, Syekh Amin Al-Qurdi, dalam kitab Tanwīrul Qulūb, menyebut bahwa perubahan nama thoriqoh mengikuti perubahan kepemimpinan dan konteks zaman. Substansi ajaran tetap berlanjut, meski dengan sebutan berbeda seperti Thoifuriyyah, Khuwajikaniyyah, dan Naqsyabandiyyah.
Berabad-abad kemudian, sejarah mencatat kebangkitan kembali Shiddiqiyyah di Nusantara. Ulama asal Ploso, Jombang, Jawa Timur, Syekh Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi, sejak 1960 mengajarkan kembali ajaran ini secara bertahap. Proses tersebut melalui empat fase hingga akhirnya berdiri resmi sebagai Thoriqoh Shiddiqiyyah pada 4 April 1972.
Di bawah bimbingan Syekh Mukhtar, Shiddiqiyyah ditegaskan sebagai jalan spiritual yang menyatu dengan kehidupan kebangsaan. Kejujuran tidak berhenti pada ritual personal, tetapi diterjemahkan dalam pendidikan, kerja sosial, dan cinta tanah air. Dari prinsip ini lahir berbagai lembaga pendidikan dan organisasi kemasyarakatan yang berorientasi pada penguatan iman dan kemanusiaan.
Dengan jutaan pengikut dan jaringan lintas negara, Shiddiqiyyah hari ini tampil sebagai contoh bahwa spiritualitas tidak melemahkan komitmen kebangsaan. Justru sebaliknya, ia memperkuat karakter bangsa melalui nilai kejujuran, integritas, dan tanggung jawab sosial.
Shiddiqiyyah mengajarkan satu pesan tegas: iman yang lurus adalah fondasi bangsa yang kuat, dan kejujuran adalah pilar peradaban yang tidak boleh runtuh. ***
