Universitas Mataram Bubarkan Nobar Film Pesta Babi, Ini Alasannya

Merah Putih Global – Universitas Mataram (Unram) membubarkan kegiatan nonton bareng atau nobar film dokumenter Pesta Babi karya Dandhy Laksono yang rencananya digelar di lingkungan kampus. Pembubaran dilakukan pada Kamis (7/5) sekitar pukul 18.55 WITA.

Aksi penghentian kegiatan tersebut dipimpin langsung Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Unram, Sujita, bersama puluhan petugas keamanan kampus.

Keputusan itu memicu respons dari pihak penyelenggara yang menilai langkah rektorat tidak sejalan dengan prinsip kebebasan berekspresi di lingkungan perguruan tinggi.

Nobar Film Pesta Babi Dihentikan di Area Kampus

Pemutaran film dokumenter Pesta Babi semula direncanakan berlangsung di lingkungan Universitas Mataram dengan melibatkan mahasiswa dan masyarakat yang ingin menyaksikan film tersebut.

Namun, sebelum pemutaran dimulai, pihak kampus menghentikan kegiatan tersebut.

Sujita mengatakan film yang akan diputar dinilai tidak layak untuk ditonton di lingkungan kampus.

Film ini saya kira kurang baik untuk ditonton,” ujarnya.

Karena itu, pihak kampus meminta mahasiswa membatalkan agenda pemutaran film dokumenter tersebut.

Wakil Rektor Sebut Atas Perintah Rektor

Menurut Sujita, keputusan membubarkan kegiatan nobar bukan dilakukan atas inisiatif pribadi.

Ia menyebut langkah tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Rektor Universitas Mataram, Sukardi.

Dalam penjelasannya, Sujita menilai pembatalan pemutaran film dilakukan untuk menjaga situasi kampus tetap kondusif.

Saya menolak demi menjaga kondusivitas dan supaya tidak ada ketersinggungan antara kita,” katanya.

Tak hanya itu, ia juga menyarankan mahasiswa memilih kegiatan tontonan lain.

Mending kita nonton film lain atau sepakbola,” imbuhnya.

Film Pesta Babi Angkat Isu Papua

Film dokumenter Pesta Babi merupakan karya jurnalis dan dokumenteris Dandhy D Laksono.

Film tersebut mengangkat isu perubahan lingkungan dan sosial yang terjadi di Papua.

Secara khusus, dokumenter itu menyoroti hilangnya kawasan hutan akibat konversi lahan menjadi perkebunan industri yang dikaitkan dengan program ketahanan pangan dan transisi energi.

Selain itu, film tersebut merekam berbagai upaya masyarakat Papua dalam mempertahankan tanah adat yang mereka anggap sebagai bagian dari warisan leluhur.

Yang menarik, tema tersebut menjadi alasan banyak peserta hadir untuk menyaksikan pemutaran film di lingkungan kampus.

Pembubaran kegiatan mendapat respons dari pihak penyelenggara. Haerul Ikhwan Ali yang menjadi penyelenggara menyampaikan kekecewaannya terhadap keputusan kampus.

Menurutnya, pemutaran film dihentikan tanpa alasan dan dasar hukum yang jelas.

Unram menolak pemutaran film Pesta Babi tanpa ada alasan dan landasan hukum yang jelas,” ujarnya.

Ikhwan juga menjabat sebagai Pemimpin Umum Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) MEDIA Unram.

Dalam konteks tersebut, ia menilai kampus seharusnya menjadi ruang terbuka bagi diskusi dan pertukaran gagasan.

Nobar Dipindah ke Luar Kampus

Meski pemutaran dibatalkan di lingkungan kampus, penyelenggara tetap melanjutkan agenda nobar di lokasi lain.

Keputusan itu diambil setelah mempertimbangkan faktor keamanan para peserta yang telah hadir.

Menurut Ikhwan, jumlah peserta yang datang mencapai ratusan orang.

Ratusan orang sudah datang ingin menonton, demi keamanan ya terpaksa kami pindah saja ke luar kampus,” katanya.

Pada akhirnya, pemutaran film tetap berlangsung di luar area Universitas Mataram dengan dihadiri peserta yang sebelumnya telah berkumpul untuk mengikuti kegiatan tersebut.