Kota Tua Jadi Panggung Film Global, Jakarta Tunjukkan Kepemimpinan Budaya

merahputihglobal.net – Pemanfaatan kawasan Kota Tua Jakarta sebagai lokasi syuting film internasional yang dibintangi Lisa BLACKPINK menegaskan arah kepemimpinan negara dalam membangun ekonomi kreatif berbasis budaya. Negara tidak sekadar membuka ruang, tetapi secara aktif memposisikan aset sejarah sebagai panggung produksi global yang bernilai strategis.

Proses syuting film “Extraction: Tygo,” berlangsung di Kota Tua pada 31 Januari hingga 7 Februari 2026. Sejumlah ruas utama seperti Jalan Cengkeh dan Jalan Kunir ditutup sementara demi kebutuhan produksi. Kebijakan ini menjadi sinyal bahwa negara hadir sebagai pengarah, bukan sekadar pemberi izin.

Garis besarnya tegas. Budaya dikelola sebagai kekuatan nasional.

Kepemimpinan Negara dalam Menarik Produksi Film Global

Pemilihan Kota Tua sebagai lokasi syuting tidak terjadi secara kebetulan. Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengungkapkan kerja sama ini berawal dari partisipasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam Festival Film Cannes. Jakarta membuka stan promosi dan menawarkan diri sebagai kota ramah produksi film internasional.

Dalam kerangka itu, Kota Tua diproyeksikan sebagai wajah budaya Jakarta di mata dunia. Arsitektur kolonial, nilai sejarah, dan fleksibilitas ruang menjadikannya aset yang siap dipakai dalam narasi global tanpa kehilangan identitas.

READ  Wisata Keheningan Global, Ndalem Pojok Tegaskan Model Indonesia

Yang perlu digarisbawahi, negara hadir dengan strategi, bukan reaksi.

Dari Promosi Budaya ke Agenda Ekonomi Kreatif

Kehadiran aktor dan kru lintas negara menempatkan Jakarta dalam peta produksi film internasional. Film bukan hanya produk hiburan, tetapi instrumen ekonomi kreatif yang menciptakan rantai nilai, mulai dari jasa produksi hingga promosi destinasi.

Dalam praktiknya, keterlibatan figur global seperti Lisa BLACKPINK mempercepat daya jangkau promosi budaya Indonesia ke pasar dunia.

Kota Tua sebagai Simbol Kedaulatan Budaya

Selama proses syuting, Kota Tua direkayasa secara visual untuk merepresentasikan latar negara lain. Properti konflik, kendaraan rusak, dan spanduk berbahasa asing dipasang tanpa mengubah struktur permanen kawasan cagar budaya. Setelah produksi selesai, ruang publik dikembalikan ke fungsi semula.

Di sisi lain, negara memastikan pengelolaan dampak sosial tetap berjalan. Pedagang Lokasi Binaan Kota Intan yang terdampak penutupan sementara menerima kompensasi sebagai bentuk kehadiran negara dalam menjaga keseimbangan ekonomi rakyat.

Artinya, kepemimpinan budaya tidak berdiri di atas pengorbanan warga.

Budaya sebagai Aset Strategis Negara

Kota Tua kini berfungsi ganda. Ia adalah ruang sejarah sekaligus instrumen diplomasi ekonomi kreatif. Melalui produksi film global, negara menunjukkan bahwa pengelolaan budaya dapat berjalan seiring dengan kepentingan ekonomi dan citra internasional.

READ  Rudy Mas’ud dan Ujian Kedaulatan Demokrasi di Kalimantan Timur

Kepemimpinan budaya Jakarta tidak bersifat simbolik. Ia operasional, terukur, dan diarahkan untuk kepentingan nasional.