
Bahasa Kita – Geopark Rinjani menjadi fokus kebijakan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan menempatkan konservasi sebagai prioritas utama dalam pengelolaan kawasan yang memiliki nilai ekologis, geologi, dan budaya tinggi.
Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, menegaskan bahwa kawasan Rinjani tidak hanya diposisikan sebagai destinasi wisata. Namun juga sebagai identitas dan sumber kehidupan masyarakat yang harus dijaga secara berkelanjutan.
“Rinjani bukan sekadar destinasi wisata, tetapi identitas, sumber kehidupan, sekaligus warisan dunia yang harus dijaga tanpa kompromi,” kata Iqbal, Minggu (3/5/2026).
Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara perlindungan lingkungan dan penguatan ekonomi masyarakat berbasis kawasan.
Arah Kebijakan Konservasi Geopark Rinjani
Pengelolaan Geopark Rinjani diarahkan untuk mempertahankan nilai konservasi tanpa mengabaikan potensi ekonomi. Pemerintah daerah menegaskan bahwa perlindungan kawasan menjadi fondasi utama dalam setiap kebijakan.
Langkah konkret dilakukan melalui peresmian Pusat Informasi Geopark Rinjani di Sembalun, Lombok Timur pada 2 Mei 2026. Fasilitas ini berfungsi sebagai pusat data dan pengetahuan terintegrasi.
Dalam praktiknya, pusat informasi tersebut menghubungkan berbagai aspek, mulai dari geologi, sejarah, budaya, hingga kehidupan masyarakat sekitar kawasan.
Selain itu, narasi letusan Gunung Samalas yang berdampak pada iklim global turut memperkuat posisi Geopark Rinjani sebagai laboratorium alam dunia.
Peran Masyarakat dalam Pengelolaan Kawasan

Pemerintah daerah menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan Geopark Rinjani. Pendekatan ini dilakukan agar pembangunan tetap berjalan tanpa mengganggu kelestarian lingkungan.
Menurut Iqbal, masyarakat sekitar harus menjadi bagian utama dalam setiap program yang dijalankan. Hal ini dinilai penting untuk menciptakan kesejahteraan yang berkelanjutan.
Geopark Rinjani mencakup lebih dari 20 geosite lintas kabupaten. Potensi tersebut membuka peluang bagi masyarakat untuk terlibat dalam berbagai aktivitas ekonomi berbasis kawasan.
Penguatan Ekonomi Berbasis Kawasan
Badan Pengelola Geopark Rinjani mendorong pengembangan ekonomi lokal melalui desa wisata dan kegiatan berskala internasional. Program ini juga melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.
General Manager Geopark Rinjani, Qwadru Putro Wicaksono, menyebut produk lokal seperti tenun dan kuliner tradisional menjadi bagian penting dalam rantai nilai ekonomi kawasan.
Dengan pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku utama dalam pengembangan kawasan.
Status Kartu Hijau dari UNESCO untuk periode 2026–2030 menjadi indikator bahwa pengelolaan Geopark Rinjani berjalan sesuai prinsip konservasi dan pembangunan berkelanjutan.
Dalam konteks ini, Geopark Rinjani ditempatkan sebagai model pengelolaan kawasan yang mengintegrasikan perlindungan lingkungan dengan peningkatan ekonomi masyarakat lokal.
