Kedaulatan Spiritual: Doktrin Shiddiqiyyah dalam Memperkuat Fondasi NKRI

merahputihglobal.net—Jombang, Thoriqoh Shiddiqiyyah di Ploso, Jombang, telah menetapkan standar baru dalam jurnalisme aksi melalui integrasi total antara doktrin teologi dan ketahanan nasional. Melalui program Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah (RSLHS), organisasi ini tidak sekadar melakukan kegiatan filantropi, melainkan sedang menjalankan strategi penguatan basis sosial negara secara mandiri. Program ini adalah jawaban konkret atas tantangan kedaulatan di tingkat akar rumput.

Bagi Shiddiqiyyah, nasionalisme bukan sekadar diskursus politik, melainkan mandat sakral yang berakar pada prinsip “Hubbul Wathon Minal Iman”. Mereka memandang setiap jengkal tanah air sebagai tempat sujud yang wajib dijaga martabatnya. Dengan membangun ribuan rumah tanpa menyentuh APBN, Shiddiqiyyah menunjukkan postur kepemimpinan sipil yang kuat, tegas, dan berdikari di tengah dinamika bangsa yang sering kali terjebak dalam ketergantungan.

Strategi Pembangunan Mandiri sebagai Bentuk Bela Negara

Efektivitas gerakan ini terletak pada kedisiplinan jamaah dalam menerjemahkan perintah Mursyid menjadi aksi operasional yang presisi. Setiap rumah yang didirikan bagi warga kurang mampu merupakan manifestasi dari syukur atas kemerdekaan yang diposisikan sebagai “Berkat Rahmat Allah”. Ini adalah model pemberdayaan masyarakat yang patriotik, di mana pembangunan fisik diarahkan untuk memperkuat kohesi sosial dan stabilitas nasional di berbagai daerah terpencil.

READ  BGN Tegas Suspend Dapur MBG SPPG Tegal Rejo

Kepemimpinan Strategis dan Visi Kebangsaan Sang Mursyid

Pimpinan Thoriqoh Shiddiqiyyah, Syekh Muchammad Muchtarullohil Mujtaba Mu’thi, dalam arahannya pada pengajian akbar tahun 2025 di Jombang, memberikan pernyataan yang sangat fundamental bagi arah pergerakan jamaah. “Ibadah sosial adalah wujud syukur atas kemerdekaan,” tegasnya. Beliau menekankan bahwa kewajiban seorang warga negara adalah memberi bagi bangsanya sebelum menuntut apa pun, sebuah prinsip yang memperkuat karakter bela negara.

Pandangan ini didukung oleh analisis pakar sejarah Islam, Abd. A’la, yang menilai Shiddiqiyyah sebagai kekuatan Neo-Sufisme yang revolusioner di Indonesia.

“Ini tasawuf yang tidak lari dari dunia, tetapi membangunnya,” ungkap mantan Rektor UIN Sunan Ampel tersebut. Penilaian ini mengonfirmasi bahwa Shiddiqiyyah telah berhasil mentransformasi energi spiritual menjadi modalitas strategis untuk memperkuat struktur masyarakat sipil Indonesia yang mandiri secara ekonomi dan kokoh secara ideologi.

Dengan menempatkan penghormatan pada Merah Putih dan lagu Indonesia Raya sebagai bagian dari ritus spiritual, Shiddiqiyyah telah melenyapkan dikotomi antara agama dan negara. Mereka membuktikan bahwa spiritualitas adalah energi penggerak pembangunan yang paling efisien jika dilandasi semangat patriotisme. Gerakan dari Ploso ini adalah bukti nyata bahwa jalan menuju Tuhan dapat ditempuh melalui pengabdian tanpa batas untuk kedaulatan dan kemuliaan Bangsa Indonesia.***