
Merah Putih Global – Kendaraan listrik mulai dipandang sebagai solusi modernisasi armada logistik nasional di tengah tingginya biaya operasional dan dominasi truk tua berbahan bakar fosil di Indonesia. Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia atau Aptrindo menilai transisi menuju kendaraan niaga listrik menjadi langkah realistis untuk memperbarui sistem distribusi nasional sekaligus menekan polusi udara.
Ketua Umum Aptrindo Gemilang Tarigan mengatakan mayoritas armada truk nasional saat ini masih berusia tua dengan tingkat efisiensi rendah. Dari sekitar 6,4 juta unit truk yang beroperasi di Indonesia, sebagian besar masih menggunakan mesin diesel konvensional.
Data tersebut memperlihatkan hanya sekitar 21 persen armada truk yang berusia di bawah lima tahun. Sementara sekitar 65 persen lainnya sudah beroperasi lebih dari dua dekade.
Dalam konteks tersebut, kendaraan listrik dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi bagian dari proses regenerasi armada logistik nasional.
Kendaraan Listrik Dinilai Cocok untuk Kawasan Pelabuhan
Gemilang menilai kawasan pelabuhan dapat menjadi titik awal implementasi kendaraan niaga listrik. Sebab, area tersebut selama ini menghadapi persoalan polusi udara akibat tingginya penggunaan truk diesel tua.
Secara teknis, kendaraan listrik tidak menghasilkan emisi gas buang langsung di area operasional sehingga dianggap lebih cocok digunakan di lingkungan pelabuhan.
“Populasi umur truk di pelabuhan berada pada angka 30–40 tahun,” ujar Gemilang.
Yang jadi sorotan, usia armada yang terlalu tua tidak hanya memengaruhi efisiensi distribusi barang, tetapi juga meningkatkan biaya operasional dan konsumsi bahan bakar.
Di sisi lain, tekanan biaya logistik kini semakin besar setelah harga minyak dunia melonjak akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Dalam perkembangan selanjutnya, kondisi tersebut mulai mendorong pelaku usaha mempertimbangkan kendaraan listrik sebagai alternatif operasional jangka panjang.
Biaya Operasional Armada Listrik Dinilai Lebih Efisien

Perusahaan tekstil PT Ever Shine Tex Tbk. atau Evershine Group menjadi salah satu pelaku usaha yang mulai menerapkan kendaraan listrik untuk distribusi logistik.
Direktur Ever Shine Group Michael Sung mengatakan penggunaan armada listrik mampu memangkas biaya operasional secara signifikan dibanding kendaraan konvensional.
“Total saving bisa mendekati 70% dibanding kendaraan konvensional,” kata Michael.
Selain penghematan biaya, perusahaan juga mencatat penurunan emisi sekitar 35 hingga 41 persen pada rute Jakarta-Bandung pulang pergi.
Saat ini, perusahaan mengoperasikan enam unit truk listrik untuk mendukung distribusi produk ke sejumlah pelanggan seperti Shopee, Grab, Gojek, hingga Eiger.
Tak berhenti di situ, armada tersebut juga terhubung dengan Fleet Management System melalui K-Move Dashboard untuk memantau operasional kendaraan secara real-time.
Infrastruktur dan Harga Truk Masih Jadi Hambatan
Meski peluang kendaraan listrik semakin terbuka, proses transisi logistik hijau masih menghadapi tantangan besar dari sisi infrastruktur dan investasi awal.
Direktur Utama Kalista Group Albert Aulia Ilyas mengatakan penggunaan kendaraan niaga listrik saat ini masih terkonsentrasi di wilayah perkotaan karena kesiapan stasiun pengisian daya lebih memadai.
Kalista mulai menyiapkan strategi pembangunan infrastruktur pengisian daya hingga wilayah rural area apabila kebutuhan bisnis dinilai memungkinkan.
Pada sisi yang sama, pemerintah juga tengah menyiapkan sejumlah insentif kendaraan listrik seperti PPN Ditanggung Pemerintah dan pembebasan bea masuk impor kendaraan listrik.
Meski begitu, harga satu unit truk listrik saat ini diperkirakan mencapai sekitar 2,5 kali lebih mahal dibanding truk diesel konvensional. Kondisi tersebut masih menjadi tantangan utama bagi pelaku usaha yang ingin melakukan peremajaan armada dalam skala besar.
