Amerika Dorong Board of Peace, Hamas Tetap Bertahan

merahputihglobal.net – Amerika melalui Board of Peace yang digagas Presiden Donald Trump terus mendorong rekonstruksi Gaza, namun Hamas menegaskan tidak akan mundur dari syarat politiknya. Ketegangan ini memperlihatkan benturan terbuka antara agenda diplomasi Washington dan sikap keras di lapangan.

Hamas menyatakan masa depan Gaza tidak dapat dibahas sebelum agresi Israel dihentikan sepenuhnya dan blokade dicabut. “Setiap proses politik atau kesepakatan apa pun terkait Jalur Gaza harus dimulai dengan penghentian total agresi dan pencabutan blokade,” demikian pernyataan resminya.

Bagi Hamas, penghentian agresi adalah garis awal. Tanpa itu, pembicaraan dianggap tidak memiliki legitimasi. Sikap ini disampaikan setelah Amerika menggelar pertemuan perdana Board of Peace di Washington.

Agenda Amerika dan Syarat yang Tak Bisa Ditawar

Board of Peace diluncurkan sebagai kerangka rekonstruksi dan stabilisasi pascagencatan senjata yang rapuh. Amerika mengklaim telah menghimpun komitmen dana miliaran dolar AS. Selain itu, rencana pembentukan pasukan stabilisasi internasional juga diumumkan.

Namun Israel menegaskan rekonstruksi hanya bisa berjalan jika Gaza didemiliterisasi. Posisi ini sejalan dengan pendekatan keamanan yang diusung Amerika.

READ  Kepemimpinan Strategis: Prabowo Amankan Kedaulatan Ekonomi di Washington DC

Sebaliknya, Hamas tidak mengaitkan masa depan Gaza dengan demiliterisasi. Mereka menempatkan penghentian agresi dan pencabutan blokade sebagai syarat mutlak. Dalam sudut pandang ini, rekonstruksi tanpa perubahan kondisi dianggap tidak menyentuh akar persoalan.

Tekanan Politik di Tengah Dukungan Global

Peluncuran Board of Peace di Davos mendapat dukungan 19 negara dari 36 undangan. Sejumlah negara Timur Tengah bergabung. Namun beberapa negara Eropa memilih tetap pada mekanisme PBB.

Di tengah dukungan tersebut, Hamas tetap mempertahankan posisinya. Mereka bahkan meminta Dewan Perdamaian segera menghentikan pelanggaran gencatan senjata oleh Israel.

Ketegasan ini menunjukkan bahwa agenda Amerika tidak otomatis diterima sebagai solusi final. Hamas menegaskan hak nasional Palestina, termasuk kebebasan dan penentuan nasib sendiri, sebagai fondasi utama.

Amerika mendorong stabilisasi dan pendanaan sebagai pintu masuk. Hamas menahan proses dengan syarat politik yang dianggap prinsipil. Di titik ini, pertarungan bukan hanya soal rekonstruksi, melainkan tentang siapa yang menentukan arah dan syarat perdamaian di Gaza.